Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Senin, 09 Januari 2012

Selesai, part End

Setelah sekian lama saya mencari jati diri saya dalam tulismenulis dan lebih tepatnya ngetikmengetik akhirnya saya pun mulai melangkah dan mencurahkan segalanya disini, yup di blog tercinta ini. Haha so kita mulai aja deh.
Di post sebelumnya saya menceritakan semua kenangankenangan. Flashback memory yang masih tersisa. Hmm.

Kesadaran menghampiri saya, suatu pemikiran yang tibatiba sedikit mengganggu ketenangan pikir ku. Apa itu? Yaitu kuteringat seluruh utangku. Weitsss bukan itu, cut!

Pacaran itu boleh ndak sih? Pacaran itu boleh ndak sih? Boleh ndak sih? Sampe gondrong rambut ini memikirkannya, dan memang sebelumnya rambut saya udah gondrong. Kegalauan melanda, badai menerpa, api membara, dan kenapa saya masih disini? harusnya saya lari kalo ada kaya gituan! Ok stop, back to topic.

Mikir, mikir, dan mikir. Berhubung saya orangnya tipe pemikir akut stadium akhir, jadi masalah kecilpun kalo udah sampe ke pikiran saya maka akan jadi runyam semuanya. Pertimbangan ini itu sini situ atas bawah kiri kanan depan belakang pun tak terlewatkan.

Satu sisi ku memang masi menyimpan suatu utang, wes tala jangan bahas utang! Satu sisi ku masi menyimpan suatu prasaan yang begitu besar. Rasa sayang jelas masih ada. Ketidak tegaanpun melanda untuk mengakhiri dikala hubungan ini hampir genap 1 tahun.

Hmm masih berpikir, kayanya di post ini isinya dimana saya mikir doang ya. Ada hal yang cukup kuat untuk mengakhiri semuanya, yakni saya ingin menjadi Islam yang sebenarnya. Tentu kalo udah ada niatan seperti itu saya juga harus merubah diri saya. Termasuk menanggalkan status More than friend ini. Memang dalam menjalani hubungan ini saya ndak berani ngapangapain dan nyaris seperti tak ada hubungan apaapa. Seakan setanpun semakin memperkuat niat saya untuk membatalkan niat saya yang sebelumnya (nah lho mbulet). Setan dalam diri saya, tenang saya ndak kesurupan kok. Setan dalam diri saya membuat alibi

"tenang aja dan toh ya kamu ndak pernah ngapangapain ama dia, lanjutin aja hubungan ini ndakpapa"

Hmm yang namanya setan jelas sesat menyesatkan. Ya memang saya ndak pernah ngapangapain, ndak pernah ngapangapain untuk saat ini, bagaimana dengan besok, lusa, bulan depan, taun depan? Ndak ada yang bisa menjamin kalo saya ndak brani ngapangapain. Huft satu langkah pun telah berani saya ambil, yaitu semakin memantapkan diri, hati, pikiran untuk END THIS WAY.

Eits ada tambahan lagi, ada hal yang semakin memperkuat, yakni dia berkerudung. Rasanya saya terlalu jahat untuk mengotori kesucian kerudungnya dengan pacaran ini. Semuanya seakan telah mendukung ku. Ya Allah saya harap apa yang akan saya ambil ini adalah langkah yang tepat. Amin

Suatu hari saya memutuskan untuk bertemu dengannya, tepat di tempat yang sama saat saya menyatakan prasaan saya. Yap di parkiran depan sekolah SMP saya, tapi agak ke kanan dikit (wes tala ndak masalah itu Dann!)

Dag-dig-dug, mempersiapkan seribu kata untuk pertemuan sakral ini (mulai belebihan). Saya tau sebenernya ndak ngaruh, saya mau nyiapin seabrek katakata juga ndak akan ngaruh kalo udah berhadapan langsung dengan dia. Langsung blank! Ilang semua wusshhhhh!

Menunggu, dan menunggu. Sampai akhirnya saya lihat motor dari kejauhan, ya jelaslah lha sekolah saya deket jalan raya. Ini beda, motor yang ini dinaiki oleh orang yang spesial haha. (halah bisa aja lu Dann!)

Dia datang menghampiri dengan senyum manisnya dan terbalut busana sederhana. Hmm saya tarik nafas panjang, dan kurang lebih seperti ini percakapan saya

"eh *** saya mau ngomong sesuatu" mencoba untuk memberanikan diri dengan cara basabasi 

"iya dan silahkan" hmm formal banget ya? yaudahlah ini seinget saya

"jadi gini, saya ingin mentransparansi hubungan ini" what the? bahasa macam apa itu?

"maksudnya dann?" dia mulai bingung.

"saya ndak tau kata yang pas untuk menggantikan kata putus, dan mungkin kamu bertanyatanya kenapa saya mengambil keputusan ini. *** kamu kan sekarang udah berkerudung, tentu berkerudung adalah suatu niat suci dan saya ndak mau mengotori niat itu. Berkerudung kok pacaran? Saya ndak mau ada orang lain berpikir seperti itu ke kamu" saya menjelaskan dengan panjang nan lebar

"oww, emang udah ndak ada prasaan lagi ka dann?" pertanyaan luar biasa!!!

"kamu tau gelas yang dibanting ke lantai dan serpihannya berserakan? Ya itulah keadaan saya sekarang, rasa itu masi ada, sama seperti serpihan kecil gelas tadi. Memang kecil, tapi prasaan itu masi ada! ndak bisa langsung ilang begitu aja ***" ntah apa yang membuat saya ngomong kaya gitu.

Dia diam, dan saya pun tibatiba menemukan suatu kata yang pas. Yaitu SELESAI.

*dialogue is cut here*

Pertemuan tadi diakhiri dengan berkumandangnya adzan. Menandakan memang harus pulang. Saya langsung mengayuh sepeda saya menuju arah rumah. Seakan pikiran dan perasaan saya masih tertinggal disana. Kuteriakkan salam dari kejauhan.

Wassala'mualaikum! dalam hati seraya berkata, saya harap ini jalan yang terbaik dan semoga engkau juga dapat menerimanya.

Hmmm SELESAI dan END!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;