Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Rabu, 02 Juli 2014

Bagimu Capresmu; Bagiku Capresku

Tujuh hari lagi kita semua, bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum presiden. Siapa yang terpilih pada 9 Juli nanti, dia beserta pasangannya akan menempati Istana Negara dan segera menggantikan foto yang biasa terpajang di depan kelas yang mengapit burung garuda dengan Bhineka Tunggal Ika di kakinya. Saya harap bagi yang terpilih nanti, wapresnya kalau bisa yang memiliki wujud ya… jangan sekadar nama seperti wapres yang menjabat sekarang. He’s so mysterious. :)

Rabu, 11 Juni 2014

Selamat Tinggal Masa SMA

Ada tiga hal yang sering orang lupakan: kematian, di mana ia meletakkan kunci kendaraan, dan adanya perpisahan di ujung sebuah pertemuan.

Senin, 28 April 2014

#SHS, is about memory and moment

Pensil yang oleh sekolah dibagikan untuk melingkari lembar jawaban Ujian Nasional sudah hilang entah kemana. Penghapusnya juga. Kunci jawaban yang saya dapatkan dengan cara urunan 60rb-an dengan teman juga sepertinya sudah tidak ada. Ujian Nasional telah berlalu dan itu berarti masa SMA akan segera berakhir. Beda cerita kalau nanti ada yang mengulang, tapi saya harap tidak ada.

Masa SMA boleh berakhir, tapi kenangan tentu tak akan lenyap begitu saja. Banyak cerita di SMA, mungkin memang benar apa yang telah dikatakan oleh orang terdahulu "SMA adalah masa paling indah". Entah siapa yang telah menciptakan kalimat itu. Mungkin seorang yang selama perjalanan sekolahnya dari SD hingga SMP ingin mendapatkan pacar, tapi selalu gagal. Dan akhirnya ketika SMA dia berhasil, jadi dia berkesimpulan SMA adalah masa yang paling bahagia. Who knows? 

Sudah cukup sepertinya tentang penjelasan SMA-nya, karena sebenarnya ini adalah tulisan untuk promosi acara yang saya dan teman saya buat.

Kalau UN berlangsung tanggal 14 April lalu, acara kami akan diselenggarakan tanggal 18 Mei nanti. Oh iya, nama acara kami Senior High Show, diplesetkan dari kata Senior High School. Dan tagar #SHS adalah singkatannya, saya rasa kalian tentu juga sudah tau.

Senin, 31 Maret 2014

H-14 Menuju UNAS

Sorry gak sempat buat nulis nih post panjang-panjang, lagi sibuk garap Detik-Detik Ujian Nasional.

Oiya, bagi teman-teman saya yang baca postingan ini, tolonglah ndang ditutup, gunakan waktumu buat belajar.

Sekian.

Selasa, 07 Januari 2014

Anda Masih Mengucapkan Terserah? Ya Terserah, sih

“Eh enaknya liburan ini ke mana ya? Ke tempat A itu perlu biaya banyak, nabungnya mungkin agak lama. Tapi kalau ke tempat B itu lebih murah, jadi cukup nabung seminggu sampe dua minggu paling juga udah bisa berangkat. So, kita ke mana nih?”

“Terserah”

“Wah, sayang ya bunuh orang itu dosa”

Halo semua. 

Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami yang seperti itu.

Udah menjelaskan sesuatu panjang lebar dan dijawab dengan singkat, padat, tidak jelas, serta mengesalkan : terserah.

Sepertinya keadaan menjawab "terserah" pada tiap pertanyaan sudah seperti tagline salah satu minuman teh dalam botol. Yaaa sebut saja Teh Botol.

“Apapun pertanyaannya jawabannya terserah saja”

Apa itu berarti tidak boleh sama sekali menjawab pertanyaan dengan "terserah"?

Yaa itu sih terserah, lah ini kenapa saya ikut-ikut jawab "terserah"

Ehm jadi begini, menurut saya mah sah-sah saja menjawab "terserah", tapi mbok ya tolong tau situasi kondisi lah. 

Yang saya kurang setuju adalah situasi sebagaimana saya contohkan di atas. Jawaban "terserah" pada contoh di atas itu lebih seperti kemalasan berpikir, atau tidak bisa menentukan sebuah keputusan. Dan akhirnya dijawab... "terserah".

Ah elah, itu otak yang ada di dalem tengkorak juga ada gunanya lagi. Hehe.

Barangkali kalimat saya sebelum ini terlalu kasar ya maap lho ya. Rasanya itu kaya SMS panjang lebar, tapi cuman dijawab "Y". Apalagi kalau SMS panjang lebar, menawarkan pilihan. Dan akhirnya dijawab "terserah"... disingkat pula, jadi "trsrh". Bangsat memang.

Ya habisnya, jujur saya kesel sendiri kalau ada yang kaya begitu. Dipikir dulu napa pilihan yang udah ditanyakan oleh penanya, jangan langsung menyerah, dan akhirnya jawab "terserah". Coba deh pake jawaban yang lebih bijak, contohnya "itu sih bagaimana kamu aja" (sebenernya sih sama aja, tapi cobalah jawaban yang lebih kreatif)

Seperti yang saya bilang di atas, menjawab "terserah" itu tetap diperbolehkan. Contohnya pas lagi bertamu.

“Wah kamu mau makan apa?”
“Terserah deh yang ada aja”

Kan gak etis kalau ditanya

“Kamu mau makan apa?”
“Aduh aku pengennya Lasagna, piye?”
“Waduh kayanya ini genteng bocor deh, saya benerin dulu ya”

Kalau saya bilang menjawab dengan "terserah" adalah bentuk kemalasan berpikir, maka ya wajar-wajar saja kalau kita sesekali jawab "terserah". Malas kan memang manusiawi.

Adalagi situasi kaya gini.

“Jadi gini, aku ada tempat A, itu bagus, sejuk, kerenlah. Kalau B itu katanya orang-orang sih tata kotanya yang bagus. Kemana nih enaknya? ... aku sih terserah”

Di satu sisi mungkin yang bertanya memang setuju kalau pergi ke mana pun pilihannya. Tapi di sisi lain, kalau dia sudah jawab "terserah" akhirnya nanti gimana juga bisa ditebak, yang lain biasanya sih juga begitu jawabnya.

“...kemana nih enaknya? Aku sih terserah”

“Aku juga terserah deh”

“Lho aku juga terserah”

“Yawes, aku bagaimana kamu aja deh”

it becomes endless conversation. Percakapan yang tidak berujung dan berakhir tanpa hasil. 

Gitu terus sampe masuk sekolah. Niatnya pengen liburan, eh malah gak jadi pergi gara-gara saling men-terserah-kan jawabannya.

***

Bisa dibilang, menjawab dengan "terserah" juga mampu memantik api pertikaian. 

Keadaan sedang tidak kondisional, ada sedikit emosi dalam menyampaikan pertanyaan, yang menjawab pun melontarkan kata "terserah" dengan nada yang tinggi. Kalau di-digitalkan mungkin tulisan "terserah" dengan nada tinggi tadi jadinya "Terserah!"Mengingat tanda seru di belakang kata atau kalimat berbanding lurus dengan tingkat ketidak-enakan pengucapan, jadi kalau tanda serunya cuman satu berarti masih enakan, tulisannya juga gak menganut faham kapitalis, yap! Faham yang menulis dengan huruf kapital. Oh, bukan ya? 

Fokus lagi, biasanya sih kalau kaya begitu masalah bukannya selesai malah jadi tambang panjang.

Yah apalagi kalau...

*ketika kerja kelompok dan ada masalah*

“Woi! Ini makalahnya mau diapain lagi ini!? Kalau disetor begini nilainya bakal jelek, kalau buat baru butuh waktu lama, dan besok udah hari H!?”

“TERSERAH AH! Aku udah gak mau tau lagi. Lah wong aku bukan kelompokmu!”

“Owalah, ya maaf lho, mas. Gak ada maksud. Maaf ya”

***

Yaudahlahya~

Sebisa mungkin dikurangi lah ya. Saya pribadi juga masih sering mengucapkan terserah, ini dalam masa rehabilitasi dalam mengurangi intensitas menjawab "terserah", kok. :)

Kesimpulannya, ya terserah teman-teman sekalian. Kalau masih membiasakan jawaban "terserah" yaa terserah, sih.

(Eh baru kali ini lho buat postingan via hape, ternyata seru-seru aja)








Minggu, 05 Januari 2014

Ucapan Selamat Tahun Baru

Sudah lama betul blog ini gak dibuka.

Sebelumnya Selamat Tahun Baru semuanya, iya, saya tahu sudah telat memang mengucapkannya tapi gak apa lah ya daripada gak sama sekali #alasanklasik

Halo semua...

Bagaimana tahun 2013 teman-teman sekalian? Menyenangkan kah? Atau cenderung biasa saja? Yaaaa saya harap tidak berlalu begitu saja, semoga ada satu atau dua harapan yang tercapai. Tapi kalau harapan teman-teman tahun lalu hanya tiga buah, ya pencapaian barusan sudah cukup mengesankan.

Oiya berapa banyak rencana tahun lalu yang akhirnya hanya menjadi sebuah rencana? Saya pribadi cukup banyak, sangat banyak malah. Bagaimana dengan teman-teman? Saya harap ada banyak rencana tahun lalu yang akhirnya berhasil.

Selamat datang 2014 selamat tinggal 2013. Semoga lebih baik... hmmmm, apa iya untuk menjadi lebih baik harus selalu menunggu pergantian tahun?


 
;