Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Minggu, 16 Juni 2013

Ayam Goreng Tepung Bumbu Api Neraka!

Postingan kali ini aku ingin mencoba sesuatu hal yang beda. Aku ingin melatih dalam bidang review sesuatu. Dan kalau ada yang berharap sebuah review yang bisa dikatakan membantu. Bukan disini tempatnya. Mungkin ini juga bukan sebuah review, hanya postingan random aja. Udahlah

Sebelumnya, ada yang pernah makan di Richeese Factory? Bahasa Indonesianya sih Pabrik Richeese jadi di sana itu tempatnya para pegawai Richeese kerja dan mencari uang dan bukan tempat makan. Tapi bohong. Itu tetap tempat makan kok, mungkin juga bisa dibilang tempat bunuh diri yg tepat bagi yang lidahnya sensitif terhadap rasa pedas.

Mungkin juga ada yang belum pernah ke sana dan hanya tau Richeese sebatas produk-produknya yang biasa dijual umum dipasaran?

Ya kurang lebih produk-produk ini yang biasa kita lihat
(karena ngga mampu beli)
Dan kalau ada yang bertanya-tanya apakah saya dibayar Richeese untuk membuat postingan ini dalam rangka promosi. Saya jawab dengan tegas TIDAK! Justru saya yang bayar untuk mengambil gambar-gambar dalam postingan ini. Yap bayar internet.



Sedikit penjelasan singkat, jadi Richeese adalah sebuah brand makanan ringan yang senantiasa mengagung-agungkan keju (baca : kejunisme), yaa walaupun ada beberapa produknya yang murtad. Richoco. Yap sepertinya Richeese yang sudah pindah kepercayaan menjadi Richoco sudah benar-benar melepas ke-keju-annya dan murni coklat. Berbeda dengan produk yang bernama ChocoChiz, dia memiliki unsur coklat tapi dia juga masih memiliki unsur keju dan bisa dibilang coklat yang ke-keju-kejuan. Sedangkan kita tau (bagi yang Islam) "barang siapa menyerupai suatu kaum maka akan dianggap bagian dari kaum tersebut". Kenapa bisa begitu? Karena ChocoChiz masih dalam naungan Richeese dan bukan Richoco. Ya kurang lebih begitulah penjelasannya.

Itu lho Logo Richeese beserta semboyannya "Kaya Keju"
yang artinya, "Seperti Keju"
Richeese sepertinya sudah menemukan kepedean untuk mendobrak sesuatu yang baru dan kreatif. Yakni membuat sebuah tempat makan bernafaskan fast food yang namanya sudah sempat saya singgung di awal. Richeese Factory. Dan yang dijual juga tidak jauh beda dengan produk makanan cepat saji yang sudah beredar duluan. Tepat sekali! Ayam.

Di Richeese Factory mereka memiliki banyak pilihan menu, dan tetap tak lepas dari yang namanya keju. Saya pribadi tak sempat melihat detail menunya karena mata sudah tertuju pada satu menu spesial yang mereka tawarkan. Sebuah menu yang memiliki tingkat kepedasan yang berbeda seperti keripik-keripik yang beredar sekarang. Ditambah lagi dengan kalimat yang sepertinya bernada menantang siapapun yang melihat "Berani coba?" Kurang lebih begitu saya lupa.

Gambar sengaja dibuat besar bagi mereka yang malas buat melakukan zoom
Di situ sudah jelas tingkatan menu yang dikemas dengan gambar yang menarik yakni termometer, atau mungkin namanya menjadi hotmeter setelah beralih fungsi menjadi alat pengukur kepedasan. Dari yang paling rendah Beginner (0), Medium (1), Hot (2), X-tra Hot (3), X-treme (4), dan X-factor (5). Ehm maksud saya Ultimate. Saya bingung kenapa tingkat pedas 3 dan 4 menggunakan unsur "X" sedangkan yang ke-5 tidak. Seharusnya alangkah bagusnya kalau tingkatannya bernama XXX. Itu juga sebuah tingkat pedas, lebih tepatnya panas, spesifiknya film panas.

Sabtu lalu saya berkesempatan memesan tingkat yang teratas yaitu Ultimate, sepertinya kata "berkesempatan" bukan kata yang tepat, dan bisa digantikan dengan kalimat "dengan bodohnya". Waktu itu saya tidak sendiri, saya bersama dua teman saya Rizki atau lebih akrab dipanggil sayang Alex, dan Devinta atau lebih akrab dipanggil Zubaidah. Memang saya bersama kedua teman saya, tapi sayalah yang menghasut mereka untuk mencoba Richeese Factory dalam rangka memuaskan rasa penasaran. Sudah cukup lama saya tahu tentang Richeese Factory tapi belum ada rejeki untuk mengunjungi. Tempat makan ini secara tidak sengaja juga kami temukan di lantai 3 Royal Plaza Surabaya di tempat food court. Alex dan Devinta memesan makan terlebih dahulu di tempat lain sedangkan saya sengaja menyisihkan uangku untuk mencoba tempat makan yang sudah lama saya dambakan. Saya pun sadar kalimat terakhir sangatlah berlebihan.

Logo dari Richees Factory
Lengkap dengan maskot mereka seorang chef kumis tipis
Kami bertiga memesan Fire Wings with Cheese Dip, dengan tingkat kepedasan maksimal seharga 29ribu. Itu sudah termasuk PPn, barusan saya menghitung. Uang kami dapat dari hasil urunan, saya 10rb, Alex 15rb, dan Devinta 5rb. Jadi total uang 1,5juta. Cukup banyak memang.

Setelah menunggu beberapa menit, terlihat pesanan kami mulai disajikan. Memang sebelumnya sudah saya kira. Bahwa makanan ini munafik, maksudnya makanan yang sesunggunya lebih kecil ketimbang gambar yang diperlihatkan. Apa jangan-jangan dada seorang bintang film bokep juga lebih kecil ketimbang gambarnya. Entahlah, dan lupakan. *kemudian Istighfar*

Isinya 6 tapi udah dimakan 2. Disajikan lengkap dengan saus keju.
Gambar ini cuman lebih jelas aja.
Berasa HD kan?
Saya dan Devinta lah yang menghabiskan 2 potongan ayam pertama. Dan apakah anda berpikiran 2 potongan yang kami berdua makan adalah hal yang mudah?

Jawabannya IYA, pada awalnya. Tapi selang beberapa menit kemudian...

Seakan ada sesuatu yang membakar mulut kami berdua. Kalau tidak salah Sabtu lalu Royal kebakaran.

Saya lah yang berkesempatan pertama untuk mencoba ayam Jahanam itu. Awalnya kami kira rasanya tidak terlalu padas. Seperti halnya Maicih level 10, memang sangat pedas tapi ya dalam tahap wajar. Kami kira kami mampu. Niatnya malah Alex dan Devinta memberikan 4 potong ayamnya kepada saya dan mereka berdua hanya memakan satu. Tapi setelah potongan pertama saya coba. Rasanya saya memilih ditinggal oleh pacar saya menikah dengan orang lain. Setelah beberapa saat saya sadari, saya tidak punya pacar.

Saya makan potongan pertama dengan perlahan, mengunyah pelan, dan merasakan. Biasa saja. Lalu Alex bertanya.

"Ngga pedes kah Dann?"

Dengan segenap hati saya bilang "Ngga kok ngga pedes" walaupun sebenarnya saya mencoba menahan. Lalu Devinta menanyakan sesuatu yang sama. Saya pun menjawab dengan jawaban yang sama padahal paket soal kami berbeda. <<< lupakan.

Saya mulai menahan tawa karena sepertinya ada gejolak luar biasa dalam lidah. Alex pun menyusul dengan tawanya yang keras sembari meneriakkan "ANJING KAU DANN!!!"

Devinta yang awalnya dengan polos bilang "Eh iya ngga pedes" sekarang dia menerima balasannya akibat meremehkan sesuatu. Muka kami bertiga memerah. Apalagi saya yang apabila mulai terasa pedas, keringat langsung mengucur deras, dan berhubung waktu itu tidak pesan minum. Saya pun meminum keringat saya sendiri. Oke kembali serius.

Saya dan Devinta berhasil menyelesaikan tugas memakan satu potong ayam. Hasilnya, rasa terbakar pada lidah yang tak tertahankan. Saya pun tak kuat membendung air mata. Saya pun menangis bung!!!

Mulut saya yang masih dalam keadaan pedas dan panas, saya lap dengan tisu dan stupidly tisu itu juga saya ratakan kebagian hidung. Akhirnya mulut dan hidung saya panas! SAYA SUSAH BERNAFAS! Tangan saya yang bekas bumbu dengan tidak sengaja mengelap keringat di muka dan muka saya serasa terbakar. Lengkap sudah penderitaan. Saya pun istighfar sebanyak-banyaknya mengingat segala dosa dan mengingat betapa pedihnya siksa neraka kelak. Ampun ya Allah. Sesegera saya melaksanakan shalat Taubat.

Satu botol Tupperware saya habiskan. Dan hasilnya saya kenyang, kenyang karena air. Mungkin ini kenapa pada menu ini tidak disediakan nasi ataupun sejenisnya. Ya karena memang tidak perlu nasi. Cukup ayam berbumbu api neraka ini dan air. Itu sudah membuat kenyang luar biasa.

Dan Alex, dia belum menyelesaikan ayamnya. Dia masih perlu menghabiskan ayamnya. Dan bisa dilihat di video ini. Seperti apa reaksinya


Malam itu, tepatnya pukul 21.30 sebuah malam yang panas bagi kami bertiga.

Alex menghabiskan 1 setengan botol Cheers yang dia beli. Wajahnya memerah, begitu juga dengan matanya. Tak lama kemudian, dia diam. Dia mencoba menghilangan rasa pedas yang tak kunjung padam. Namun hasilnya nihil. Perutnya kini penuh air, tak mampu lagi dia tertawa ataupun berucap kata. Dia langsung teringat akan ibunya yang sudah susah payah membesarkannya. Dramatis.

Awalnya kami lihat ayam itu hanyalah ayam goreng tepung biasanya. Dan setelah dicelupkan pada suatu bumbu yang berwanra merah kecoklatan. Dia pun berubah...

Ayam Goreng Tepung Bumbu Api Neraka

Tingkat ULTIMATE yang luar biasa!

Ada yang ingat dengan logo dari Richeese Factory diatas dengan chef kumis tipis yang tersenyum? Mungkin dalam hatinya ia berbisik jahat "TERSIKSALAH KALIAN YANG MEMAKAN MASAKAN KU, HUAHAHAHAHA"

Dan mungkin juga bentuk tangannya yang seakan menggambar makanan yang enak dan lezat. Digambarkan dengan jari telunjuk dan jempol yang melingkar, dan tiga jari terangkat. Biasanya para chef akan menyuarakan layaknya orang ciuman. Atau sebuah kata perfecto. Sebenarnya dalam hatinya dia sedang mengacungkan jari tengah.

Dan mungkin nama sebenarnya bukan Richeese Factory, tapi Richeese F*cktory.

HEBAT! SUKSES KAU MEMBUAT KAMI SEMUA MERASAKAN SENSASI KEBAKARAN!!!

TERIMAKASI ATAS PENGALAMAN YANG LUAR BIASA INI DAN .... *kemudian ke toilet*

Hehehe :)

Seharusnya menu nya itu gini...

edited by : Alex 

4 komentar:

  1. Ada apa dengan mukanya Rwizki? Hehehehe emang begitu kalau habis makan api neraka. Lah situ belum tidur?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bro gimana rasanya itu hehehe. Salam kenal :). Follback blog gue dong cuy di www.bangrians.com aku udah follow blogmu. Silahkan mampir dan berkomentar iya :) salam kancut

      Hapus
    2. Salam kancut juga bro. Sudah bro sudah aku follback :)

      Hapus
  2. emang bener2 pedes kok itu ayam richese
    gak lebay kalo dibilang bumbu api neraka :(

    BalasHapus

 
;