Untuk hal ke-dua yang saya sebutkan, itu adalah masalah pribadi. Mmm, sebelumnya saya mau tanya, apa hanya saya di sini yang selalu meluangkan waktu 10-30 menit hanya untuk mencari kunci motor ketika hendak pulang dari sebuah acara? Atau bahkan setelah menghabiskan beberapa menit mencarinya lalu kemudian sadar kalau sebenarnya tidak membawa motor? Sepertinya kesehatan saya perlu dipertanyakan.
Dan tentang kematian, saya tidak akan membahas itu lebih dalam. Tapi saya sangat yakin kalau kematian adalah salah satu hal yang sering kita lupakan. Selalu merasa kalau kita akan hidup sampai 1000 tahun lagi, padahal menurut acara yang saya tonton --Cosmos: A Spacetime Odyssey-- dengan tingginya kadar CO2 di atmosfer saat ini, Bumi bahkan tidak mampu bertahan untuk 100 tahun ke depan.
Oiya, tentang adanya perpisahan di ujung sebuah pertemuan, kita sering melupakannya. Bagaimana tidak? Kita sering terlena dengan kedekatan, kebahagiaan, dan mungkin keintiman yang tumbuh dalam sebuan pertemuan sehingga lupa kalau ada yang namanya perpisahan di ujung jalan.
Tenang, tiga hal yang saya sebutkan di atas semuanya manusiawi. Jadi apa yang sebenarnya ingin saya bahas? Tanggal 31 Mei lalu saya wisuda. Lebih tepatnya wisuda SMA. Kebahagiaan yang saya rasakan waktu itu cukup rumit. Di mana saya bahagia karena akhirnya saya lulus, dan kelulusan itu juga berarti bahwa masa SMA yang paling membahagiakan juga harus dilepas secara tulus. Rasanya mungkin seperti melepaskan seseorang yang telah begitu banyak mengukir kenangan bersama. Entahlah saya kurang yakin.
Tidak diketahui dengan jelas, siapa sebenarnya yang mempopulerkan kata-kata "SMA adalah masa yang paling indah", mungkin dia adalah salah seorang yang paling bahagia semasa SMA. Entah dia sempat mengukir prestasi yang luar biasa, mendapat ciuman pertama, atau pertama kali menonton video porno. Atau mungkin, kata-kata itu diucapkan oleh seseorang yang masa SMA-nya begitu rumit dan menyusahkan, lantas dia mengatakan bahwa SMA adalah masa yang paling indah sebagai kalimat satire.
Pertama-tama saya akan menganggap kalau kita semua mengalami masa SMA yang begitu indah. Dan sedih rasanya ketika seragam sudah mulai digantung dengan penuh coretan bekas euforia kelulusan --yang mana saya tidak melakukan itu, karena jika ada salah satu murid di sekolah saya melakukannya, ijazah akan ditahan. Memang merupakan sesuatu yang dilarang di sekolah saya untuk mencorat-coret seragam, terutama seragam kepala sekolah; sanksinya tentu akan lebih berat.
Aneh. Biasanya untuk momen yang menyenangkan, kita akan dengan senang hati untuk mengulangnya. Tapi tidak dengan SMA, kita mungkin akan sama-sama merasa kehilangan ketika sudah lulus, tapi adakah dari kita yang ingin tetap tinggal di SMA? Toh ya tidak demikian. Kita berat untuk melepas, tapi enggan untuk kembali.
Bagi saya pribadi, SMA merupakan masa pencarian. Apa yang kita cari? Apapun. Pacar, kesenangan, teman baru, dan bahkan sesuatu yang abstrak yang sering kita dengar: jati diri.
Saya adalah pelajar jurusan IPA yang pada akhir masa SMA-nya memilih untuk murtad dengan mengambil kuliah jurusan Ilmu Komunikasi yang mana adalah ranah milik anak IPS. Apa boleh buat, saya sudah jenuh dengan segala macam rumus dan deretan angka, oiya dan juga saya masih mempertanyakan kapan saya akan membutuhkan perhitungan tepat akurat cepat jatuhnya buah kelapa dari atas pohon. Itu masih misteri.
Di SMA saya mulai berani untuk mencoba banyak hal baru. Seperti mengikuti sebuah komunitas stand up comedy. Saya memilih bergabung dengan komunitas itu karena sejauh ini kemampuan yang saya punya ya cuman berbicara. Sebenarnya saya sempat berpikir untuk bergabung dengan komunitas pecinta reptil, tapi berhubung satu-satunya reptil di rumah saya hanya ular dan itupun ular tangga, jadi saya pun mengurungkan niat.
Lupakan cerita tentang saya, mari bercerita tentang kita.
Ingat kah kalian pada awal pertemuan kita? Waktu itu kita semua saling canggung. Tak ada suara dan tak ada tawa. Semua seakan sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa sudah ada yang saling kenal dan mulai mengobrol.
Mungkin kalian juga masih ingat, pada saat semua diam tiba-tiba ada seseorang yang mungkin ia jenuh dengan suasana yang dingin dan akhirnyamemilih untuk membuat perapian dalam kelas mencoba untuk mencairkan suasana dan mulai ada tawa di antara kita.
Kalau tidak salah setelah beberapa bulan bersama dalam kelas, salah satu dari teman kita mulai ada yang jatuh hati, dan di kelas pun mulai tumbuh benih-benih cinta. Dan kemudian akan terdengar "ciyeeeee" ketika mereka berdua --yang saling suka-- berdekatan.
Ada yang berhasil jadian, dan ada pula yang sekadar menjadi penyuka dalam diam. Perlu diketahui, menyukai orang lain dalam diam itu memilukan. Karena kami harus turut senang, ketika orang yang kita suka sedang bersenang-senang dengan orang yang ia senangi.
Aduh saya kok jadi tidak fokus begini. Mari kembali ke jalan yang benar. :(
Bolos pelajaran dan lebih memilih duduk di kantin sepertinya tidak bisa luput dari ingatan. Bosan dengan pelajaran akhirnya memilih untuk keluar kelas dan mencari penghiburan.
Keakraban sudah mulai terjalin, sebuah persahabatan pun terbentuk. Ketika sudah bersama sekitar satu tahun lebih, kita sudah menganggap kalau kita adalah keluarga. Saling mendengar keluh dan berbagi peluh. Dan pada saat itu semua menjadi begitu menyenangkan. Ada acara buka bersama dan disambung dengan acara tidak-teraweh-bersama karena lebih asyik main kembang api serta merayakan ulang tahun salah satu teman dengan sangat tidak manusiawi. Ada yang diceburkan ke kolam ikan dan berakhir dengan kepala berdarah karena proses pelemparan yang tidak pas, dan ada yang ketika lengah, dia langsung digotong dan diikatkan di pohon kemudian pohonnya dibakar. Hmm, tentang membakar teman yang diikat di pohon memang belum pernah terjadi, tapi mungkin bisa dijadikan referensi.
Sayangnya, ketika kita semakin dekat tak terasa waktu juga berputar begitu cepat. Tiba-tiba saja kita semua sudah kelas 12. Di mana tempo permainan sudah mulai naik. Ada yang setuju kalau kelas 11 adalah masa di mana kita bisa begitu santai? Dan begitu kelas 12 suasana sudah mulai menegang. Yap, ada UN yang menunggu kita.
Satu bulan sebelum UN, di sekolah sudah tidak ada yang namanya belajar. Yang ada hanya mengerjakan soal, soal, dan soal. Banyak yang mulai jenuh dan ada pula yang mulai sedikit takut karena adanya ancaman tidak lulus. Kejam memang, bagaimana usaha kita selama tiga tahun hanya dinilai dalam tiga hari. Kita semua merasakan ketidakadilan itu. Sebelumnya maaf, saya tidak ingin membahas terlalu jauh tentang ini karena sepertinya ada banyak hal yang lebih menyenangkan untuk dikenang.
UN pun berakhir, tiga hari yang menegangkan sudah berlalu. Kemudian wajah-wajah ceria mulai bermunculan. Wajah-wajah yang tanpa beban, karena begitu mereka pulang sekolah, mereka akan langsung pulang ke rumah dan tidak harus ke tempat bimbingan belajar. Bagaimana kita bisa seceria itu ya? Padahal kita juga belum tau bagaimana hasil UN-nya nanti. Teman saya yang bijak mengatakan "jangan terlalu bahagia untuk saat ini dan jangan langsung corat-coret seragam, siapa tau tahun depan seragamnya masih dipakai lagi". Bijak sekali, bukan?
Kalau tidak salah pengumuman kelulusan UN tanggal 20 Mei. Alhamdulillah kabar baik, kita semua lulus. Dag-dig-dug di dada yang selalu menyertai hari-hari menjelang pengumuman itu akhirnya terbayar sudah. Tapi sebenarnya ada atau tidak adanya pengumuman, jantung kita kan tetap dagi-dig-dug. Itu merupakan tanda kalau kita masih hidup
Ada apa setelah 20 Mei? Ternyata ada yang lebih menegangkan: pengumuman SNMPTN, atau penerimaan kuliah melalui jalur undangan. Sungguh beruntung bagi mereka-mereka yang diterima melalui jalur ini. Dan bagaimana dengan mereka yang tidak diterima? Tenang, ada banyak jalan menuju Roma, dan HEI! Kenapa harus selalu ke Roma? Harusnya adagium itu berbunyi "Ada banyak jalan menuju tempat-tempat yang menakjubkan". Hehe.
Akhirnya, sudah sampailah kita di penghujung acara. Tanggal 31 Mei 2014. Yap, benar! Wisuda.
Pada hari itu, seragam putih-abu-abu sudah berganti dengan kemeja lengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Bukan, bukan karena mau daftar untuk menjadi polisi tapi itu adalah setelan baju yang harus dikenakan laki-laki, bagaimana dengan yang perempuan? Semua memakai kebaya. Semua yang laki-laki seragam! Baju putih celana hitam, dan yang perempuan bisa begitu berwarna. Diskriminatif!
Wisuda. Pembacaan nama-nama wisudawan. Foto bersama. Dan bagi yang belum mendapatkan kuliah, mereka --termasuk saya-- resmi menjadi pengangguran.
"...kamu sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini, jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, ingatlah hari ini..."
Bagi saya pribadi, SMA merupakan masa pencarian. Apa yang kita cari? Apapun. Pacar, kesenangan, teman baru, dan bahkan sesuatu yang abstrak yang sering kita dengar: jati diri.
Saya adalah pelajar jurusan IPA yang pada akhir masa SMA-nya memilih untuk murtad dengan mengambil kuliah jurusan Ilmu Komunikasi yang mana adalah ranah milik anak IPS. Apa boleh buat, saya sudah jenuh dengan segala macam rumus dan deretan angka, oiya dan juga saya masih mempertanyakan kapan saya akan membutuhkan perhitungan tepat akurat cepat jatuhnya buah kelapa dari atas pohon. Itu masih misteri.
Di SMA saya mulai berani untuk mencoba banyak hal baru. Seperti mengikuti sebuah komunitas stand up comedy. Saya memilih bergabung dengan komunitas itu karena sejauh ini kemampuan yang saya punya ya cuman berbicara. Sebenarnya saya sempat berpikir untuk bergabung dengan komunitas pecinta reptil, tapi berhubung satu-satunya reptil di rumah saya hanya ular dan itupun ular tangga, jadi saya pun mengurungkan niat.
***
Lupakan cerita tentang saya, mari bercerita tentang kita.
Ingat kah kalian pada awal pertemuan kita? Waktu itu kita semua saling canggung. Tak ada suara dan tak ada tawa. Semua seakan sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa sudah ada yang saling kenal dan mulai mengobrol.
Mungkin kalian juga masih ingat, pada saat semua diam tiba-tiba ada seseorang yang mungkin ia jenuh dengan suasana yang dingin dan akhirnya
Kalau tidak salah setelah beberapa bulan bersama dalam kelas, salah satu dari teman kita mulai ada yang jatuh hati, dan di kelas pun mulai tumbuh benih-benih cinta. Dan kemudian akan terdengar "ciyeeeee" ketika mereka berdua --yang saling suka-- berdekatan.
Ada yang berhasil jadian, dan ada pula yang sekadar menjadi penyuka dalam diam. Perlu diketahui, menyukai orang lain dalam diam itu memilukan. Karena kami harus turut senang, ketika orang yang kita suka sedang bersenang-senang dengan orang yang ia senangi.
Aduh saya kok jadi tidak fokus begini. Mari kembali ke jalan yang benar. :(
Bolos pelajaran dan lebih memilih duduk di kantin sepertinya tidak bisa luput dari ingatan. Bosan dengan pelajaran akhirnya memilih untuk keluar kelas dan mencari penghiburan.
Keakraban sudah mulai terjalin, sebuah persahabatan pun terbentuk. Ketika sudah bersama sekitar satu tahun lebih, kita sudah menganggap kalau kita adalah keluarga. Saling mendengar keluh dan berbagi peluh. Dan pada saat itu semua menjadi begitu menyenangkan. Ada acara buka bersama dan disambung dengan acara tidak-teraweh-bersama karena lebih asyik main kembang api serta merayakan ulang tahun salah satu teman dengan sangat tidak manusiawi. Ada yang diceburkan ke kolam ikan dan berakhir dengan kepala berdarah karena proses pelemparan yang tidak pas, dan ada yang ketika lengah, dia langsung digotong dan diikatkan di pohon kemudian pohonnya dibakar. Hmm, tentang membakar teman yang diikat di pohon memang belum pernah terjadi, tapi mungkin bisa dijadikan referensi.
Sayangnya, ketika kita semakin dekat tak terasa waktu juga berputar begitu cepat. Tiba-tiba saja kita semua sudah kelas 12. Di mana tempo permainan sudah mulai naik. Ada yang setuju kalau kelas 11 adalah masa di mana kita bisa begitu santai? Dan begitu kelas 12 suasana sudah mulai menegang. Yap, ada UN yang menunggu kita.
Satu bulan sebelum UN, di sekolah sudah tidak ada yang namanya belajar. Yang ada hanya mengerjakan soal, soal, dan soal. Banyak yang mulai jenuh dan ada pula yang mulai sedikit takut karena adanya ancaman tidak lulus. Kejam memang, bagaimana usaha kita selama tiga tahun hanya dinilai dalam tiga hari. Kita semua merasakan ketidakadilan itu. Sebelumnya maaf, saya tidak ingin membahas terlalu jauh tentang ini karena sepertinya ada banyak hal yang lebih menyenangkan untuk dikenang.
UN pun berakhir, tiga hari yang menegangkan sudah berlalu. Kemudian wajah-wajah ceria mulai bermunculan. Wajah-wajah yang tanpa beban, karena begitu mereka pulang sekolah, mereka akan langsung pulang ke rumah dan tidak harus ke tempat bimbingan belajar. Bagaimana kita bisa seceria itu ya? Padahal kita juga belum tau bagaimana hasil UN-nya nanti. Teman saya yang bijak mengatakan "jangan terlalu bahagia untuk saat ini dan jangan langsung corat-coret seragam, siapa tau tahun depan seragamnya masih dipakai lagi". Bijak sekali, bukan?
Kalau tidak salah pengumuman kelulusan UN tanggal 20 Mei. Alhamdulillah kabar baik, kita semua lulus. Dag-dig-dug di dada yang selalu menyertai hari-hari menjelang pengumuman itu akhirnya terbayar sudah. Tapi sebenarnya ada atau tidak adanya pengumuman, jantung kita kan tetap dagi-dig-dug. Itu merupakan tanda kalau kita masih hidup
Ada apa setelah 20 Mei? Ternyata ada yang lebih menegangkan: pengumuman SNMPTN, atau penerimaan kuliah melalui jalur undangan. Sungguh beruntung bagi mereka-mereka yang diterima melalui jalur ini. Dan bagaimana dengan mereka yang tidak diterima? Tenang, ada banyak jalan menuju Roma, dan HEI! Kenapa harus selalu ke Roma? Harusnya adagium itu berbunyi "Ada banyak jalan menuju tempat-tempat yang menakjubkan". Hehe.
Akhirnya, sudah sampailah kita di penghujung acara. Tanggal 31 Mei 2014. Yap, benar! Wisuda.
Pada hari itu, seragam putih-abu-abu sudah berganti dengan kemeja lengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Bukan, bukan karena mau daftar untuk menjadi polisi tapi itu adalah setelan baju yang harus dikenakan laki-laki, bagaimana dengan yang perempuan? Semua memakai kebaya. Semua yang laki-laki seragam! Baju putih celana hitam, dan yang perempuan bisa begitu berwarna. Diskriminatif!
Wisuda. Pembacaan nama-nama wisudawan. Foto bersama. Dan bagi yang belum mendapatkan kuliah, mereka --termasuk saya-- resmi menjadi pengangguran.
"...kamu sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini, jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, ingatlah hari ini..."
![]() |
| Keluarga saya di sekolah: 12 IPA 1 |
***
Semua berlalu begitu cepat bukan?
Di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Memang kita semua tidak berpisah seperti layaknya perpisahan, kita semua masih bisa saling berhubungan lewat fasilitas-fasilitas yang ada, entah itu chat atau media sosial dan bahkan kita masih sering tidak sengaja bertemu satu sama lain di suatu tempat. Tapi yang jelas masa SMA sudah berakhir dan kita semua melangkah ke fase berikutnya.
Saya tiba-tiba jadi teringat tentang anime yang dulu menjadi kesukaan saya. One Piece. Ada juga yang suka dengan anime itu? Sayang di tengah jalan saya berhenti mengikuti kelanjutan ceritanya. Tapi ada satu cerita yang sangat saya ingat. Saya akan ceritakan sebagaimana saya mengingatnya.
Anggota bajak laut Topi Jerami, Luffy dan kawan-kawannya waktu itu melawan Bartholomew Kuma di sebuah pulau. Tak disangka ternyata Luffy dan delapan temannya tidak sanggup mengalahkannya. Lalu, tiba-tiba Kuma mengeluarkan salah satu kekuatannya, satu pukulan untuk masing-masing orang: Luffy, Zoro, Sanji, Usop, Robin, Nami, Chopper, Brook, Franky. Kemudian mereka semua terpental dan terbang begitu jauh ke sembilan tempat yang berbeda. Kini mereka terpisah.
Singkat cerita, di tempat terdampar mereka masing-masing, mereka semua berlatih dengan keras. Banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Kalau tidak salah, mereka akan saling bertemu lagi 2 tahun kemudian. Jadi selama dua tahun itulah mereka memperkuat diri, karena mereka menyadari kalau teman-temannya yang lain juga sedang melakukan hal yang sama.
Dan voila! Ketika mereka semua bertemu di pulau di mana mereka dipisahkan, kini mereka semua bertambah kuat. Saling takjub satu sama lain atas pencapaian yang sudah berhasil diraih.
Jadi, menurut saya, selagi bukan kematian yang menjadi pemisah, sesungguhnya perpisahan hanyalah persoalan waktu untuk suatu saat nanti bisa saling bertemu kembali.
Tentang cerita One Piece di atas, itulah harapan saya terhadap perpisahan di SMA ini. Berpisah sementara, lalu berkumpul lagi dengan sebuah pencapaian yang sudah diraih. Saya yakin kita semua tidak ingin menjadi orang yang biasa-biasa aja toh. Don't succumb to mediocrity, begitulah twit yang paling saya ingat dari seseorang.
Sekian dan terimakasih. See ya...
![]() |
| BEFORE |
![]() |
| AFTER 2 YEARS |





keren bro, mampir mampir ke blog gue ya www.hawehawe.blogspot.com *cheers
BalasHapusterimakasih juga udah mampir ke blog ane. Ane pasti mampir ke blog situ kok!
HapusEnaknya, serunya, duh.
BalasHapusEh, kenapa udah selamat tinggal aja, kak? Aku baru mau masuk SMA loh ini. *berasa satu sekolahan*
hehe nikmati masa SMA mu Fadillah, berarti kamu baru lulus SMP dong?
Hapus