Tujuh hari lagi kita semua, bangsa Indonesia akan
melaksanakan pemilihan umum presiden. Siapa yang terpilih pada 9 Juli nanti,
dia beserta pasangannya akan menempati Istana Negara dan segera menggantikan
foto yang biasa terpajang di depan kelas yang mengapit burung garuda dengan
Bhineka Tunggal Ika di kakinya. Saya harap bagi yang terpilih nanti, wapresnya
kalau bisa yang memiliki wujud ya… jangan sekadar nama seperti wapres yang
menjabat sekarang. He’s so mysterious. :)
Pemilu presiden 2014 nanti adalah kali pertama saya
menggunakan hak pilih saya. Dan pada pemilu ini pula saya yang berusia 18 tahun
menjadi sedikit mengerti tentang dunia politik. Ya sudah tentu ini pertama
kalinya saya menjadi peduli dan kurang lebih mengikuti, lha wong pemilu sebelumnya
tahun 2009 saya masih 13 tahun. Tau apa memangnya bocah yang puber saja belum?
Waktu itu saya masih SMP kelas 1, itu berarti… wah! saya baru saja meninggalkan
SD. Pasti saya masih suka bermain-main. Dan hei! Peduli amat soal politik. Jangankan
politik, polwan saja saya baru tau kalau itu adalah singkatan Polisi Wanita.
Saya rasa, pada saat remaja begini sudah saatnya kita kurang
lebih tau soal politik. Tidak buta. Walaupun mungkin masalah tentang cinta jauh
lebih menarik. Dan ketimbang melihat debat capres/cawapres toh Ganteng-Ganteng
Serigala lebih bisa dijadikan sebagai ajang cuci mata bagi kaum hawa. Yak ada
Aliando. Anu… saya tau begini karena
adik saya yang tiga-tiganya perempuan selalu menonton sinetron itu. Jangan
salah sangka gitu ah, gak baik.
***
Prabowo-Hatta
atau Jokowi-JK. Satu atau dua.
Ada yang bilang kalau pemilu presiden kali ini adalah hal yang mudah karena hanya ada dua pilihan. Ah
mungkin saya salah, ada tiga pilihan kalau golput—memilih untuk tidak memilih—juga
termasuk.
Dan apakah di sini saya akan menuliskan dukungan kepada
capres/cawapres tertentu? Tenang, sebisa mungkin saya tidak akan melakukannya. Avatar
twitter saya juga masih utuh, tidak separuh burung garuda merah dengan tulisan PILIH SATU KARENA SAYA CINTA INDONESIA ataupun I STAND ON THE RIGHT SIDE dengan angka 2 di
atasnya dan ber-background merah. Juga tidak ada isyarat menggunakan jari.
Sekarang sepertinya orang-orang jadi lebih sensitif soal masalah jari. Pose
dengan 2 jari—isyarat peace—langsung ada yang tanya “eh kamu pendukung Jokowi
ya? Sama dong kaya aku”. Berhubung
keadaan yang sudah semakin absurd ini, saya juga menghindari mengupil dengan
jari telunjuk. Saya takut kalau tiba-tiba ada pendukung Prabowo akan menanyakan
hal yang sama.
Timeline twitter saya semenjak beberapa bulan lalu, tiap
harinya selalu ada saja yang membicarakan politik dan capres/cawapres
dukungannya. Saya tidak mempermasalahkan hal itu, toh Indonesia termasuk ke
dalam negara yang paling sering berkicau di twitter. Selalu ada saja pembahasan
tiap harinya. Teman-teman yang saya kenal dan saya follow hanya beberapa yang
ikut beropini di microblog dengan lambang burung biru itu. Itu pun hanya yang
laki-laki, dan teman perempuan saya sepertinya lebih suka me-retweet
dwitasaridwita atau yang sejenis itu. Sepertinya benar, masalah cinta memang
memiliki daya tarik tersendiri. Selebihnya info tentang copras-capres—istilah yang
belakangan ini ngetrend—saya dapat dari following saya yang beragam. Penulis, selebtwit, stand-up comedian, aktivis, tokoh agama sampai akun atheis, dan masih banyak
lagi.
Walaupun saya tidak masalah dengan copras-capres dan
sebagainya, tapi ada hal yang bikin saya enek: black campaign dan fanatisme
dari pendukung tiap kubu. Contoh sederhana adalah hadirnya akun bot yang asal
mention dan menyebarluaskan gambar serta informasi yang belum tentu benar. Saya
pernah dapat satu dengan tulisan kalau tidak salah “MENJILAT LUDAH SENDIRI” di
situ ada gambar Pak Anies, dan Pak JK. Mungkin ada yang kena juga?
Biar adil, sebenarnya saya juga ingin mendapatkan black
campaign tentang Pak Prabowo. Kok ya di timeline itu yang kena selalu Pak
Jokowi, ya Kristen lah, keturunan Cina lah, Yahudi, Illuminati, Komunis, Capres
boneka, wes pokoknya macem-macem. Oh iya, tentang capres boneka, seharusnya isu
itu diangkat kalau Barney, Susan, atau Pinokio yang mencalonkan diri menjadi
presiden.
Sempat baca di salah satu portal berita, Tempo, tentang
kerusuhan dan perusakan oleh massa yang
berseberangan pilihan capresnya. Menurut saya hal ini tidak perlu terjadi. Kok
jadi saling serang dan saling lawan begini?
Saya yakin, pada masing-masing pasangan capres-cawapres
pasti memiliki misi—tersirat maupun tersurat—untuk mempererat persatuan bangsa,
adanya toleransi satu sama lain dan merangkul perbedaan. Namun entah kenapa
justru para pendukungnya malah menciderai keinginan itu dan melakukan hal yang
sebaliknya.
Memang, kenyataan di lingkungan yang saya lihat tidak seekstrem
itu. Saya hanya melihat secuil dari Indonesia melalui timeline twitter.
Alhamdulillah teman-teman saya juga tidak sampai
sebegitunya. Ada yang pendukung Jokowi, ada juga yang mendukung Prabowo. Dan
saya sendiri mendukung adanya perbedaan di antara kedua teman saya. #tsaah
Sedari kecil, kita memang terlahir berbeda, bahkan yang
lahir kembar pun memiliki perbedaan. Kalau memang secara fisik sama, mungkin
secara susunan kode genetika yang tak sama.
***
Saya pribadi belum menentukan pilihan, masih gamang. Mungkin sudah, tapi saya kurang yakin. Tapi sama seperti kata Pandji, saya bakal yakin kalau Anies Baswedan yang maju :)
Yap, pilihannya cuman 2. Kalau gak Prabowo ya Jokowi.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia
yang sempurna. Namun kesempurnaan bisa dicapai saat kita menyadari kalau kita
memiliki ketidaksempurnaan.
Memang adanya begitu, dan kini kita harus memilih yang
paling baik di antara yang tidak sempurna. Begitulah kurang lebih yang saya
dengar dari seseorang di YouTube.
Dan kalau bicara masalah politik lantas ada yang berteriak “Halah!
Politik itu kotor!”. Bisa jadi benar, karena selama ini yang dijaga
kebersihannya hanyalah lingkungan, seperti yang biasa kita temui berupa himbauan
“Jagalah Kebersihan Lingkungan!” dan sampai saat ini belum ada yang membuat “Jagalah
Kebersihan Politik!”.
Okay, semisal saya menyetujui pendapat bahwa politik itu
kotor, dan itu berarti orang yang bermain di dalamnya—termasuk dua
capres/cawapres—tidak ada yang bersih, sedangkan kita harus tetap memilih. So,
gampangannya adalah: pilihlah orang yang tidak kotor-kotor amat.
Dari mana kita bisa tau? Yah gampang, smartphone jangan hanya
digunakan untuk bermedia social atau download bokep. Sudah ada website-website
yang bisa membantu para pemilih pemula—termasuk saya—untuk mengetahui rekam
jejak masing-masing capres/cawapres. Ada AyoVote, ada juga yang baru kemarin
muncul FakDaCapres, dan yang paling mutakhir adalah Google.
Saran saya, kalau memang belum menentukan pilihan dan sedang
mencari, lakukan hal itu secara kafah atau menyeluruh. Cari tau sisi positif
dan negatifnya, kelebihan dan kekurangannya. Jadikan informasi yang sudah
didapat sebagai pertimbangan.
Ngomong-ngomong, ternyata selain pemilu presiden ini di satu
sisi menimbulkan kekacauan dan kerusuhan. Juga ada sisi positifnya, banyak
dukungan-dukungan yang diutarakan dengan kreatif yang belum pernah saya lihat
sebelumnya. Ada yang menciptakan lagu, ada yang mebuat video, dan lain-lain.
Kata “dan lain-lain” barusan adalah suatu bentuk pikiran yang mentok dan
kehabisan contoh. Yang paling berkesan bagi saya ya musik + video yang digarap Glenn Fredly, JFlow, dan... walah saya gak hafal, pokoknya itulah. Judulnya Revolusi Mental. Iya, mereka pendukung Jokowi. Musiknya bagus dan videonya juga keren. Kalau Prabowo, ada juga sih, saya taunya lagu yang We Will Rock You yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani. Dan kalau tidak salah, sekarang sudah ditarik. Entahlah.
Kita semua pasti menginginkan Indonesia yang lebih baik. Ingin
menjadikan Indonesia lebih terpandang di mata dunia. Ayah saya saja sampai
heran, “ini kenapa toh kok Indonesia gak bisa jadi negara yang hebat”. Jelas
saya akan memilih orang yang bisa dan mampu untuk membuat Indonesia jadi lebih
keren. Bukan sekadar terkenal di dunia karena masalah korupsi.
Saya jelas mendukung orang yang akan memajukan industri
kreatif di Indonesia. Saya juga mendukung orang yang akan menegakkan hukum dengan tegas. Bukan layaknya pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas; bukan
yang perkara mencuri sandal jepit lantas dihukum 5 tahun, dan skandal Century
dibiarkan menahun. Saya memodifikasi kata-kata dari Mbah Sujiwo Tejo di
bukunya Republik #Jancukers. (saya ngomong begitu padahal masalah tentang
Century saya tidak tau betul)
Kalau sampai di sini, lalu ada yang berpikiran “wah kayanya
Danny dukung capres yang itu tuh”. Eh, wait, bukankah seharusnya pemimpin yang
baik itu ya kurang lebih punya dua hal di atas. Dan jika iya ada persepsi
demikian bahwa capres A memiliki dua kriteria di atas berarti capres B tidak
punya dong. Hayoloooo...
Yak, tiap orang sama derajatnya dihadapan Tuhan, tiap orang
juga sama jumlah suaranya di pemilu. Tiap orang nilai suaranya satu. Jadi ya
gunakan hak pilih teman-teman sekalian dengan bijak.
Sampai akhir tulisan ini sebenarnya saya tetap berusaha untuk netral. Tentang prasangka yang mungkin turut hadir saat membaca tulisan ini, jangan gitu ah, gak baik. Urusan musik yang tadi, apa salahnya menyukai sebuah karya.
***
Btw, ini adalah tulisan pertama saya tentang ya beginian. Kalau dibilang ini tulisan politik, saya juga tidak tau politik-politiknya di mana. Saya hanya berusaha untuk membagikan apa yang saya pikirkan. Bisa jadi mungkin ada salah di sana-sini. Karena namanya juga belajar.
Kalau memang ada yang perlu di diskusikan silahkan komentar saja. Hehehe
Bagimu Capresmu, Bagiku Capresku. (dan bagi yang golput, pastikan juga sudah tau segala resikonya.)
Ah sudahlah, berbeda itu kan hal yang sudah biasa. Dan biasakan pula untuk menghargai perbedaan. Jangan sampai, hanya perkara beda pilihan begini lantas persahabatan merenggang, yang pacaran putus, dan seorang anak jadi dikeluarkan dari keluarga. Jangan.
Peace.



kalo saya memilih untuk tidak memilih hahaha.
BalasHapusmampir ke blog saya yaa, kalo berkenan difollback jg :)
desrezaarief.blogspot.com
aku belum boleh nyoblos nih
BalasHapus