Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Rabu, 04 Juli 2012

ya this is DJOGJA!!!

Sebuah kisah dari perjalanan 2 malam 1 hari...

I'll try my best here my friends!!! Just Read It...

Ya Allah ini DRAFT berapa abad hya? Sok Sibuk banget akunya... Udahlah baca aja

Sekedar rebahan sejenak seusai pulang sekolah adalah suatu yang sangat menyenangkan, bahkan rasanya seperti lebih baik dari apapun. Hari Senin yang cukup melelahkan selepas daftar ulang, haha sebentar lagi aku pun menginjak kelas 11. Tak terasa rupanya. Padahal perasaan ini seakan baru saja aku masuk SMA dan sekarang sudah berada di kelas 11. Mungkin UNAS pun tak lama ku hadapi. Itulah waktu, tak pernah terasa saat kita tak merasakannya. Yang ada waktu terus memotong lama waktu perjalanan kita.

Sungguh tak sabar ku menunggu, jam dinding seakan berat mengayunkan lengan detiknya. Bahkan menit pun seakan tak beranjak dari tempatnya. Masih saja kulihat, sekarang masih pukul 2 siang.

Aku lupa sesuatu, sebelum diriku pulang dari sekolah. Aku sempat meluangkan waktu untuk menikmati segarnya sop buah tak jauh dari sekolah. Ditemani sang kawan, Citra. Ya dia sesosok pria sejati dalam nama seorang perempuan asli. Tak maksud menghina, tapi memang begitu adanya. Sosok perempuan yang aku sayangi pun turut menemani, ya siapa lagi kalau bukan dia.

Ku pejamkan mata sejenak, dan... adzan pun mulai berkumandang. Ashar yang mulai datang, berarti Allah pun telah memanggil untuk segera setoran. Setoran wajib 5 kali sehari.

Masih malas diri ini untuk prepare menyiapkan apa yang aku bawa. Yang ada seusai sholat, aku lanjutkan kembali ke peraduan ku. Kasur. Seakan dimensi waktu tak berlaku disini. Karena seketika saja semua berlalu begitu cepat.

Tas ku terasa berat, ternyata buku kelas 11 telah singgah di tas ku. Bukan secara ajaib mereka ada. Tapi memang buku itu ku dapat dari daftar ulang tadi. Sungguh kejam, sepertinya anak IPA harus begitu survive. Buku yang ku ambil ku bandingkan dengan buku kawanku yang kebetulan dia anak IPS. Hasilnya, tebal total buku ku dua kali lipat darinya.

Fiuh... luar biasa...

Melihat kearah tempat bukuku yang terletak di depan kasur ku. Sebuah bufet dengan tumpukan buku yang lebih berantakan dari diriku. Niat baik datang. Bagaimana jika buku ini kurapihkan saja.

Selamat tinggal buku kelas 10, saatnya kau untuk pindah tempat. Tak ada maksud mengusir tapi buku kelas 11 juga membutuhkan tempat yang layak. Tenang wahai buku lama ku, kan ku tempatkan dirimu ke tempat yang layak pula kelak. Sabarlah, kau kan tetap kubuka wahai buku.

Sekarang, lengan detik, menit dan jam seakan terolesi minyak. Berputar dengan cepat. Yang kulihat di saestu sekitar pukul 17.30

Sebentar lagi pasti... adzan Maghrib. Ambil wudhu dan segera menuju ke mushola belakang rumah. Hmm waktu kala Maghrib sungguh menyeramkan. Sekejap ku terpejam dan ternyata... sudah Isya. Ya sudah, dengan ini kebutuhan ku pun tercukupi. Tak ada lagi tanggungan sholat. Free!

Bus sekolah akan berangkat ke DJOGJA sekitar jam 8-an.

Sungguh diriku yang terlalu sembrono. Tak ada kesiapan. Akhirnya, Bundaku yang tecinta turut turun tangan menyiapkan perlengkapan dan bekal ke DJOGJA ku. Maaf kan anak mu yang tiada pernah bisa mengatur waktu dan ketepatan tingkah laku wahai Bundaku yang tercinta. :)

Hmmm... sungguh permulaan yang aneh, tapi ya sudahlah begitulah diriku setiap akan menghadapi suatu perjalanan.

Fiuh, sudah kupastikan semuanya lengkap. Sedikit cek ini itu pun selesai.

Ku ambil kunci motorku dan segeralah ku berangkat. Hmm perjalanan ke DJOGJA kali ini memiliki kesamaan. Apa itu? Ya sama-sama ke DJOGJA toh. Hehe, ya nggak lah. Kesamaannya terletak pada sweater yang aku pakai. Sweater legenda dari Ayah. Sweater dari Ayah yang membuat Bunda ku jatuh cinta padanya. Bukan jatuh cinta pada sweaternya, yang jelas sama orangnya lah.

Diperjalanan, terselip harapan. Dengan sweater ini semoga sama seperti Ayahku, kalau tiba-tiba ada yang jatuh cinta kan lumayan. Sepertinya tak perlu. Aku sudah memiliki seseorang. Orang yang sudah 3 kali aku jadikan postingan disini. Fiuhhh.

Sesampai di sekolah, segera ku parkirkan motor ini. Tak perlu terlalu lama, segera ku berkumpul dengan kawan-kawanku. Beberapa sudah datang, Anno, Adit, Rafif, Fahmi, Dedi dan beberapa lagi.

Sedikit aku potong saja disini. Terlalu rumit untuk dituliskan. Yang ada hanyalah ketidak jelasan.

Menuju ke bus dengan penuh semangat yang bergelora.

Mataku masih lirak-lirik sana sini, mencari tempat duduk yang strategis. Ya, kudapatkan. Sangat strategis. Sebelah kiri ku Citra, kanan ku Dedi dan Anno. Ntah ini hanya suatu kebetulan atau kehendak yang kuasa aku pun tak tau.

Seketika aku ingat. "DIMANA DIA?" Tak sedikit pun kulihat dirinya sebelum berangkat tadi. Sekalipun diantara kawanan perempuan kelasku. Seketika sekujur tubuhku lemas. Apakah iya akan ku lalui perjalanan ini tanpamu? Perjalanan ini  memang spesial, tapi denganmu ku yakin akan menjadi more than special. 


Hanya bisa berdoa agar kau bisa datang. Berharap pula agar kau bisa duduk dekat dengan ku. Ya walaupun tak sebangku tapi setidaknya kau bisa di depan ku.

Kau pun datang, dengan wajah sedikit panikmu. Lagi-lagi tiap tingkahmu mampu membuatku tersenyum. Ditambah lagi kau yang tak dapat tempat duduk. Senyum ini pun semakin menjadi. Dalam batin rasanya ingin "Cit!!! minggir! cari tempat duduk yang lain!" Tapi sudah jelas, itu tak mungkin. Akhirnya kau pun duduk 3 bangku setelah supir.

Sepertinya bus ini sudah akan berangkat, semoga keselamatan senantiasa mengiringi kita. Aamiin.

Beberapa kota telah dilewati. Disinilah kelemahanku, dimana aku tak bisa menghapal dan menyebutkan nama kota dengan tepat.

Sepertinya bulan pun sudah dengan pede-nya menampakkan dirinya. Sinarnya lah yang menyinari perjalanan ini. Malam pun semakin larut. AC mobil pun sepertinya sudah mulai menusuk rusuk ini.

Seketika itu, Dedi mengambil gitarnya. Diantara tengah malam, mulailah dimainkan.

Genjrengan menghanyutkan suasana, dentingan pun seakan menghangatkan betapa dinginnya disini. Larut dalam nyanyian. Tak hafal lirik tak apa. Semuanya pun bergati menjadi suara na na na na na.

Itulah malam yang sebenarnya. Dimana semua kawan menjadi dalam satu hati.

Haha sadarkah kau wahai sayang. berani sekali diriku memanggilmu sayang. Lantas panggilan apa yang harus aku gunakan wahai kasih? Kenapa aku mendadak romantis seperti ini dalam dunia tulis-menulisku ini. Tak apalah, kau harap dapat menerimanya. Haha, kembali lagi. Sadarkah kau, Dedi sempat memainkan lagu kesukaan dari artis favoritmu. Vanilla Twilight dari Owl City. Tapi, lagi-lagi tak hafal lirik memecahkan kristal keromantisan malam itu.

Hampir semuanya menjadi na na na na. Ku harap kau mendengarnya.

Perjalanan ini ternyata memakan waktu yang begitu panjang. Kau begitu jauh. Tak bisa di ciptakan sebuah percakapan hangat malam itu. Aku hanya bisa melihatmu dari bangku belakang. Setiap kau berdiri, ntah apa yang kau lakukan. Membetulkan arah AC atau apalah.

Sudah semakin gelap, dan bus ini melaju di jalan diantara dua hutan. Gelap, dan gelap. Tentu saja gelap, karena kau sebagai cahayaku jauh dariku. Haha gombal sekali diriku.

Bersebelahan dengan Citra juga suatu anugrah. Perjalanan selalu menuai tawa dan canda. Menyenangkan.

Gitarpun sudah mulai dibaringkan. Tanda akan kesunyian. Bus ini menggelap. Mungkin semua sudah terlelap dan terbawa ke alam mimpi masing-masing. Tapi aku tidak, tidak bisa tidur karena aku masih merasakan suasana luar biasa malam ini.

Hmm tujuan pertama ada Parangtritis, lalu Kasongan, dan Malioboro.

Tanpa ku sadari ternyata lagi-lagi yang jadi temanya selalu si dia. Udahlah. Mari kembali ke jalan yang baik dan benar.

PARANGTRITIS...

Ada apa disini? Tentu ada pantai. Sudah ke dua kalinya aku ke pantai ini. Dulu aku masih lah SD. Belum tau ini itu. Sesampainya disini ya sudah. Mau apa?

Sekarang aku sudah beranjak dewasa. Mungkin masi remaja. Tapi setidaknya sudah tidak sepolos SD ku dulu. Mulai take beberapa foto. Lumayan lah ber-background-kan deburan ombak. Dari yang kecil hingga yang lumayan, ya lumayan besar. Cukup rasanya untuk membasahai lutut. Tanpa ku sadari ternyata aku lah yang terlalu dekat. :)

Disini aku ucapkan terimakasih untuk yang "disana". Mungkin kalau bukan kamu yang minta tak akan pernah ada foto kita berdua dan ditemani dengan ombak yang menyapu kaki.

Sungguh tak asing dengan perjalanan ini. Sama persis seperti dengan SD ku dulu. Setelah main air di pantai dilanjut dengan mandi. Hmm tapi kala SD ku tak ada moment untuk berfoto dengan someone\


Sebelum ke tujuan berikutnya, sebenernya ada sesi sarapan. Pas rasanya. Perut ini rasanya juga sudah tak bisa diajak kompromi. Lauknya adalah... fine! aku lupa.

Lanjut...

KASONGAN

Hmm tempat apa ini? Ntahlah kurang jelas. Aku kurang menikmati tempat ini. Hanya sekedar melihat-lihat daerah sekitar saja.

Banyak keramik disini, langkah dan gerakku pun serasa dibatasi. Mengingat aku adalah orang yang teledor stadium akhir.

Di tempat ini nggak perlu banyak-banyak hya...

MALIOBORO

Yang ada dibayangan ku tentu suasana malam di Malioboro yang memiliki ciri khas, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Ke Malioboronya jam 2, ya! jam 2 siang. Dimana matahari masih tak segan untuk senyam-senyum sambil memancarkan sinarnya. Kali itu memang panas.

Jatah yang diberikan selama di Malioboro sekitar 4 jam. Jadi dari jam 2 siang sampai jam 6 sore.

Wait.. wait kemampuan menulisku mendadak berkurang drastis.

...

Malioboro, sebuah tempat yang menurutku cukup spesial. Mungkin bukan cukup, tapi sangat. Tatanan kota yang indah. Ya walaupun sejujurnya aku tak tahu menahu tentang penataan kota. tapi menurutku itu sudah sangatlah indah. Sangat jauh berbeda dengan kota disini. Sidoarjo dan Surabaya.

Sungguh tak ada destinasi ku disni, hanya sekedar berputar-putar dengan 5 kawan ku. Anno, Dedi, Citra, Fahmi dan Sem. Tak tahu apa yang harus kubeli, memang tak ada bakat belanja dalam diri ini.

Sejauh mata memandang hanya penjual dan penjual yang aku lihat, dan juga hanya batik dan batik.

Masih tak tahu harus kemana, jadi kuputuskan untuk terus membiarkan kaki ini melangkah. Dalam hati ada harapan untuk ketemu dengan dirinya. Haha tapi ini DJOGJA men. Toh ya gak mudah mencari satu orang diantara ribuan jiwa.

Hanya bisa percaya, siapa tahu bisa ketemu.

Capek rasanya, hanya berjalan tanpa tujuan. Kami berempat putuskan untuk duduk sebentar. Tak lama kemudia, harapanku terjawab. Dia datang.

Lagi-lagi entah apa ya membuat ku begini, dan entah apa pula yang ada pada dirinya. Setiap aku melihatnya sekalipun di kejauhan, goresan senyum langsung hadir dalam wajah kumel ini.

Hmm sepertinya semua orang punya tujuan yang jelas, disini mau beli apa dan mau kemana. Tidak seperti ku yang mungkin tak beda jauh atau bisa dibilang sebelas-duabelas dengan gelandangan DJOGJA. Tapi ya gitu, mungkin aku gelandangan yang dikemas lebih rapi saja. Haha dengan batik.

*Intrupsi, jujur aku sendiri bingung melihat model tulisan ku sendiri. Maaf ya model tulisan ku masih labil kawan. Mudah berubah dengan mudah.

Ya ya ya mari kita lanjutkan..

Cukup dengan dirinya yang hadir dalam suasana DJOGJA ini sudah lebih dari cukup. Selalu, aku tetap mendadak pasif jika dekat dengannya. Mungkin hampir tak ada kata. Sekedar memandangnya. Cantik.

Tunggu, kenapa aku lebih banyak menceritakan tentang "nya". Padahal ini rekreasi kelas. Maaf kawan-kawan kelasku yang mungkin membaca. Karena setiap aku menulis yang menjadi sumber inspirasi ya hanya "orang itu"

Fiuhhh skip skip dan skip

Hari sudah semakin sore. Sepertinya sang mentari juga sudah lelah menyinari. Cahaya yang kudapat sudah redup. Awan yang menutup kala itu juga membuat semakin lemah cahaya itu. Tak apa, suasana yang luar biasa.

Kali ini tinggal Aku, Dedi, Citra dan Fahmi. Sem dan Anno, aku lupa kemana mereka semua. Ku harap mereka berdua tidak hilang . Aamiin

Kami tak tau mau kemana, jadi... ya... udahlah. Tiba-tiba terbesit untuk ke Masjid saja. Toh ya suasana Masjid juga tak kalah menarik.

Semangkuk Ronde limaribuan pun menghangatkan suasana ini. Walaupun kecil, tapi ini memang enak. Yummy.

Sampai pada akhir acara...

Ya perjalanan pulang, tapi mungkin bus akan berhenti sejenak untuk makan malam dan beli oleh-oleh. Hummm ya sudahlah kita ikuti saja.

Selepas dari dua tempat tadi, perjalanan pulang pun tampak begitu nyata. Perlahan kami tinggalkan DJOGJA. Ku sadari, kenangan ku memang banyak yang terukir disini. Ya kenangan bersama kawan, tapi mungkin kurang kenangan bersama someone. Toh ya tidak wajib. Tapi tetap terasa ada sesal. Hanya dua foto dan juga pertemuan singkat di jalan Malioboro. Haha syukuri saja.

Lama...lama... dan lama...

Bukankah perjalanan pulang akan terasa lebih cepat ketimbang perjalanan pergi ya? Ternyata memang benar.

Keberangkatan ditaburi dan dihiasi dengan ramainya suana, canda dimana-mana, dan suka cita. Tapi perjalanan pulang hanya berteman dengan mimpi. Banyak yang sudah terlelap.

Lagi. Dinginnya AC ini seakan berniat untuk membunuh ku. Berbagai cara telah aku lakukan. Mulai pindah tempat sampai bergulung-gulung mencari kehangatan.

Malam ini berlangsung agak lama rupanya. Karena memang hanya sepi yang menemani.

Masih ada yang terjaga tapi tak banyak, contohnya perempuan berwajah ke bandung ini. Niksi, mungkin dia memang perempuan nocturnal (baca : aktif dimalam hari, lebih lengkapnya tanya Google)

Ada suatu moment yang tak bisa aku lupa dalam perjalanan pulang ini...

Seorang kawanku merasa kebelet. Bus pun berhenti. Hanyalah sebuah alasan dalam alibi aku ikut turun. Selain ingin mencari kehangatan diluar. Ada satu hal lain...

Aku pun kembali...

Perjalanan ku memang ku perlambat dalam kembali ku ke tempat duduk ku.

Ku lirik dirinya, ya dia.

Selain malam yang sebenarnya adalah ketika diambilnya gitar dan bermain dalam dentingan. Genjrengan menghiasi dalam senandung na na na na.

Ketika ku lihat dirimu yang sedang terlelap dalam tidurmu, entah apa yang kau mimpikan. Kau terpejam dalam manismu. Tanpa kacamata yang biasa kau gunakan dalam melihat dunia. Tertutuplah separuh wajahmu dengan hood mu. Semua itu. Walaupun sekejap saja.

Mengesankan...  wahai sayang... maaf sekali lagi. Lancang sekali diriku ini.

Tak terasa. Sudah hampir sampai. Tak terasa pula, sudah Shubuh.

Kota kami yang masi berselimut kabut pun menyambut.

:)


Dari kiri ke kanan : Dedi, Pak Syafa' Wali Kelas, Anno, Aku, Fahmi

2 komentar:

 
;