Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Senin, 31 Desember 2012

Aku, Pelajar Bergenre ... IPA

Sudah sangat lama aku ingin menuliskan hal ini. Yang berupa sebuah, mungkin bukan sebuah tapi banyak buah. Kalau ada yang pernah melihat orang yang berjualan buah di pinggir jalan dengan berbagai macam varian rasa. Ya kurang lebih seperti itulah banyaknya keresahan ku tentang ... IPA.

IPA, salah satu dari beberapa jurusan di SMA. Ada IPS, Bahasa, mungkin ada juga yang mungkin sekolah Islam ada jurusan Agama. Akan aku luruskan disini, sama halnya dengan musik dan agama. IPA itu bukan jurusan layaknya angkutan umum Surabaya-Malang. IPA itu aliran, aku lebih suka menyebutnya genre.

Kenapa IPA itu bukanlah sebuah jurusan? Tega sekali ada yang menyamakan IPA dengan rute angkutan umum yang kerjanya cuman mondar-mandir dari tempat satu ke tempat lain yang sudah jelas, dan dilakukan terus menerus. Dan tega sekali jika sampai disamakan dengan sifat dari cara supir yang angkutan umum. Yang terkadang justru mengejar setoran menjadi tujuan utama. IPA bukanlah hal yang tiada penting seperti itu.

I'm IPA and I know it

Sebuah momen yang kurang menyenangkan pada awalnya mendatangi aku. Berupa sebuah pertanyaan singkat dari guru BK Bambang Kamungkas Bimbingan Konseling. Pertanyaan itu datang waktu pertama kalinya aku duduk di kelas 11. Namanya Bu Endang. Beliaulah guru BK ku sekarang, dan juga waktu kelas 10 dulu. Pada awalnya beliau memang sangat sedikit menyinggung soal masalah para pelajar IPA. Beliau cenderung mengunggulkan para warga IPS pada mulanya. Dan itu terus berlanjut hingga sangat lama. Mungkin 80% jam pelajaran yang kala itu hanya 45 menit. Dasar sekolah, satu jam pelajaran sama dengan 45 menit. Entahlah siapa peduli pencetus awal konversi waktu pada dimensi sekolah tersebut.

Mengunggulkan warga IPS di kelas ku yang IPA ini. Sama halnya ketika kita sedang pacaran. Namun sang pacar justru mengunggulkan mantannya yang dulu. KENAPA GAK SITU PACARAN TERUS AJA SAMA MANTANMU ITU WOI! Anggap saja tadi sebuah analogi dari sebuah perasaan yang kurasakan waktu itu. Sangat sakit rasanya hati ini. Semoga saja bukan liver ataupun hepatitis. Aaminn.

Jadi setelah sekian lama aku menunggu ... untuk ... kedatanganmu ... Okay. Kenapa aku jadi menyanyikan lagu dari anak si Raja Dangdut dan mungkin tergolong spesies. Homo sapiens lebatos buludadanis.

Jadi setelah sekian lama guru itu menerangkan, tanpa maksud membandingkan. Terucaplah sebuah pertanyaan yang mampu menggetarkan hati. Hebat! Padahal dalam Al-Qur'an ada ayat yang menjelaskan ciri orang yang beriman adalah "... mereka yang bergetar hatinya ketika mendengar nama Tuhannya ..." Kurang lebih begitu. Ntah kenapa demikian, padahal tak ada yang meneriakkan kata "Allahu Akbar!!!" tapi hati ini tetap bergetar.

Setelah semua itu sudah hampir berakhir. Bel pergantian pelajaran tak lama lagi akan memperdengarkan bunyinya. Bu Endang menanyakan yang hanya berisi 4 kata. Yang mungkin merupakan sebuah rangkuman dari semua apa yang beliau jelaskan tadi.

"...Gimana? Nyesel masuk IPA?..."

Ya kalian tau lah bagaimana perasaan setelah pertanyaan itu terlontar dengan unyu dari beliau. Oke oke, akan aku analogikan lagi bagaimana perasaan ku ketika pertanyaan itu ditanyakan. 

Pada suatu hari, ada sepasang kekasih. Sang cowo begitu menyayangi pacarnya. Mereka berjalan di sebuah taman. Hanya berdua, dan tiap langkah mereka tersinari lampu taman yang kala itu menerangi. Tak lupa rembulan yang sedang purnama dan sinarnya menerangi kasih mereka berdua. Tiba-tiba sang cewe membahas mantannya disaat sang cowo lagi memuji-muji kecantikan si cewe. Sebuah interupsi yang menyakitkan. Tak cukup dengan semua kenangan indah bersama mantan yang si cewe ceritakan. Dan pada akhir pembicaraannya. Dari bibir kecilnya yang manis, yang warnanya merah muda. Terucap sebuah kata ...

"Aku masih sayang sama mantanku" Perasaan sang cowo sudah jelas hancur berantakan. Sakitnya tiada terkira. Hatinya sangat kacau. Balonnya tinggal 4 dipegang erat-erat. Wait...

Kurang lebih begitulah apa yang dia rasakan. Itu juga sama rasanya ketika guru ku tadi menanyakan pertanyaan Jahannam tersebut.

Tapi, tapi, tapi ... seiring berjalannya waktu. Dan suasana kelas yang benar-benar luar biasa. Banyak teman seperjuangan dan sama gilanya. Akhirnya ku menemukanmu aku bisa menjawab pertanyaan guru BK tadi...

"Gimana? Nyesel masuk IPA?" 

dan jawabku...

"...Iya saya menyesal, kenapa tidak dari dulu saya pastikan saya akan masuk IPA..."

Mungkin Sujiwo Tejo punya kiasana. "Jancuk is not fuckin at all"

Tapi aku. "IPA is not fuckin' at part. But actually fuckin' at all!

Hahaha follow me ... @dannyrizky_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;