Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Sabtu, 22 Desember 2012

Bagiku, Hari Ini Bukanlah Hari Ibu...

Malam ini, pada pukul 10.47 PM. Ya komputerku berkata demikian. Tak terasa sang mentari yang tadi sudah menyinari kita sepanjang hari. Kini telah digantikan oleh sang rembulan yang samar berbalut awan. Setidaknya masih ada cahaya dimalam yang dingin ini. Seharusnya memang bercahaya karena keadaan rumahku tidak sedang mati lampu.

22 Desember 2012. Hari apa ini? Banyak yang dengan cepat menjawab... 22 Desember itu 3 hari sebelum natal. Oh god.

Hampir semua orang tau bahwa tanggal 22 Desember adalah hari Ibu. Memang tak tertera pada kalender-kalender yang biasa kita beli atau bahkan kalender pemberian dari wali kelas seusai rapotan tadi pagi.


Ditemani oleh alunan dari dentingan gitar dari artist YouTube. Walk Off the Earth melengkapi mesranya malam ini. Apa salahnya aku bilang malam ini mesra sekalipun aku tidak bersama dengan kekasihku.

Ya bagiku hari ini bukanlah hari Ibu. Karena tiap hariku Ibu sudah senantiasa melengkapi. Ibu adalah segalanya bagi ku. Ibu adalah salah seorang yang paling kita cintai, yang paling kita sayangi. Tanpa dia, tanpa dia yang merelakan sembilan bulannya hanya untuk mengandung kita dan merasakan mual yang tiada karuan. Tentu kita tiadalah lahir dibumi ini. Maaf ayah, biarkan aku membahas Ibu dulu. Hehe.

Ibu engkaulah segalanya bagi ku. Siapa yang mau merelakan waktunya merawat kita dengan telatennya. Dengan segala kelembutan kasihnya. Segalanya telah dia relakan.

Tak tanggung tanggung dari awal saat kita akan lahir dan menatap dunia. Ibu, dia sudah merelakan nyawanya demi kita anaknya. Kala itu mungkin pertama kalinya kita membuka mata dan menatap dunia, tapi bisa jadi itu yang terakhir kalinya bagi ibu kita. Kita yang membuka mata, dialah yang menutup matanya.

Bodoh, bodoh, dan bodoh. Hina, hina, dan hina. Sangat banyak umpatan tak layak yang diucapkan yang tiba-tiba menjadi pantas kala kedurhakaan mulai datang.

Dikala kita masih kecil. Masih sangatlah kecil. Masih tak bisa melakukan apa-apa. Hanya sebuah tangis yang kerap mengisyaratkan tentang apa yang kita rasakan. Ntah itu lapar, dan haus. Siapa kah yang paling mengerti akan hal itu? Mampukah kecanggihan google translate menerjemahkan semua itu? Mampukah? Hanya Ibu lah yang mengerti.

Seiring berjalannya waktu. Kita pun mulai tumbuh. Tersenyum saat melihat sesuatu, dan mata kita mulai mengikuti tiap objek yang bergerak. Sangatlah yakin diriku ini, ibu lah yang sering terlihat dan terekam oleh mata ini.

Ibu, dia yang rela bangun ditengah malam. Merelakan kenikmatan tidurnya. Menghancurkan fantasi mimpinya hanya untuk kita anaknya. Yang mungkin terbangun karena mengompol atau haus meminta susu. Ibu yang mati-matian mencoba menenangkan tangis kita dulu. Dikala dia sudah berusaha dengan keras. Seakan kita menantangnya untuk terus berusaha. Tangis kita semakin menjadi, dan semakin keras. Tak jarang lampu kamar tetangga kanan-kiri tiba-tiba menyala.

Ibu, dia terus hadir dalam segala hal. Mulai dari kita kecil hingga remaja seperti ini. Dialah orang yang paling setia menemani kita. Yang mungkin sebagian dari kita mulai menemukan sesosok yang juga menemani. Ya seorang kekasih. Sungguh rasa sayang yang semu dan mikroskopik. Begitu kecil.

Bunda, aku biasa memanggilnya begitu. Sesosok bunda dimataku adalah sesosok perempuan cantik. Sepertinya ayahku juga sependapat dengan ku.

Kenapa tiba-tiba saja postingan ini menjadi semacam renungan. Hehe. Siapa peduli.

Ada yang mengatakan, kita terlahir di dunia ini bersama malaikat yang senantiasa menemani kita. Ya, siapa lagi kalau bukan... Raqib dan Atid.

Kembali serius. Semisal dalam pelajaran agama, aku disuruh untuk menyebutkan 10 malaikat aku akan menambahkan satu. Dialah ibu.

Setiap malaikat masing-masing punya tugas. Tapi Ibu, dia tidak mengemban satu tugas saja. Adakah malaikat yang memberi asi? adakah malaikat yang menangkan kala kita menangis? adakah malaikat yang memberi kita sangu saat kita hendak pergi kesekolah? Sudahlah. Kenapa jadi begini...

Bersyukurlah bagi kalian yang masih memiliki keluarga yang lengkap. Yang masih complete.

Bersyukurlah bagi kalian yang masih merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu yang selalu hadir. Sebuah kasih sayang yang tiada berujung. Sebuah kasih yang tak akan mampu kita membalasnya dengan seluruh isi dunia ini.

Postingan malam ini lumayan aneh rupanya. Ya postingan ini sebuah pemanasan setelah sekian lama aku berhenti dikarenakan virus malas.

Singkat kata. Tiap hari adalah hari ibu. Karena (alhamdulillah) Ibu selalu ada dalam tiap hari-hariku. Udah gitu aja.

Follow me on twitter hehe : @dannyrizky_

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanggal 22 Desember 2012
      iku hari bersejarah Dan
      hari dimana kita bisa melewati kiamat
      mankanya ga bnyk orang yg ingat tgl 22 hari Ibu :D

      Hapus

 
;