Mungkin Saja Menarik :)

Hello!


Senin, 31 Desember 2012

Koin IPA dan IPS


Baru saja aku mem-posting tentang IPA. Ya IPA memang genre, nggak semua orang bisa memainkannya. Sama halnya sebuah musik. Belum tentu orang yang bisa main musik genre Jazz bisa main genre musik yang lainnya sebaik dia memainkan musik Jazz. (Pengecualian bagi para profesional yang bisa main semuanya itupun dengan proses yang panjang)

Mungkin bagi yang profesional di sekolah. Dia mampu menguasai tiga jurusan sekaligus. IPA, IPS, Bahasa. Dan dia juga melalui proses yang sangat panjang. Mungkin tidak naik kelas selama 10 tahun. Penjurusan memang begitu, setiap murid mulai dibedakan secara kemampuan. Bagi yang hidupnya ingin santai dan cenderung menyenangkan, silahkan masuk IPS. Bukannya meremehkan, tapi teman-teman dari warga IPS juga banyak yang mengatakan kalau jurusan ini santai. Bagi yang ingin sekolah berasa private dan muridnya sedikit, silahkan masuk Bahasa. Dan... bagi kalian yang merasa cukup bernyali, dan kebetulan kalian gak ada pekerjaan, juga ingin merasakan sensasi yang luar biasa. Silahkan masuk IPA.

Dalam postingan ini, mungkin jika ada pelajar yang kebetulan IPS. Harap membaca dengan pikiran yang terbuka. Tak ada maksud untuk membandingkan ataupun merendahkan sama sekali. Ini hanya perspektif ku dari seorang pelajar IPA dan juga cerita teman-teman IPS. Hehe

IPA dan IPS

Tak banyak membahas soal kelas Bahasa. Bukanya apa-apa karena kebetulan aku kurang dekat dengan mereka semua. Kelasnya pun sampai sekarang aku tak tau dimana. Mungkin dengan menambah pergaulan suatu saat kita bahas tuntas IPA, IPS, Bahasa.

Kalian pernah dengan singkatan SASAJI! Salam Satu Jiwa. Tapi bagi kami, bagi tiap jurusan. Kami juga punya SASASE! Salam Satu Sekolahan.

Karena kita berada dalam satu sekolah jadi nggak ada satupun alasan yang membuat kita saling tengkar dan bermusuhan. Walaupun secara sehat kita semua harus bersaing. Ya IPA dan IPS.

IPA dan IPS bagaikan dua belah sisi sebuah koin. Atau bisa dibilang recehan. Berarti remeh ya? Iya sekarang kita di sekolah mungkin masih remeh. Sekalipun menang berbagai macam olimpiade dan kejuaraan sekalipun. Kita tetap remeh. Karena kehidupan kita yang sesungguh akan bermula kita sudah lulus. Dimana kita sudah tidak sekolah lagi. Ya sudah barang tentu sudah jelas. Seorang anak yang sering memenangkan ini itu belum tentu akan sukses di kehidupan yang sebenarnya. Begitu juga sebaliknya.

Itu tadi hanya menurut pendapatku saja. Semisal kita di mata kehidupan masih remeh. Tapi dalam SMA ini jangan ada yang namanya saling meremehkan. Hmm bagaimana dengan mereka yang SMA dan mampu mencetak prestasi hingga tembus ke luar negeri. Mengharumkan nama bangsa? Itu beda pembahasan. Serius amat. Udah ah, tadi hanya pemikiran yang aneh.

Kembali ke IPA dan IPS bagaikan dua belah sisi sebuah koin. Ambil contoh koin Rp. 500 yang perak karena koin yang seratus ribuan nggak ada.

Koin Rp. 500 tadi sudah sangat mewakili semuanya. Satu sisi adalah Garuda, berarti Nasionalisme dan juga menyangkut segala Kemanusiaan dan akan sangat dekat dengan Sosial. Juga ada identitas negara berupa Bank Indonesia. Sangat jelas satu sisi dari koin ini adalah IPS. Dan lihatlah satu sisi yang lain. Angka, berarti sebuah Hitungan dan ada gambar Tumbuhan.. Sudah jelas IPA.

Entah lah mungkin semua itu sebuah kebetulan. Atau jangan-jangan sudah menjadi sebuah hukum alam? Biarkan semua tetap menjadi rahasia Yang Maha Kuasa. Hmm ini mungkin juga sebuah kebetulan lagi. IPA dan IPS ibarat dalam satu koin. Jelas nggak mungkin kan tiap sisi dari koin tersebut saling benci. Apa iya salah satu sisinya bisa lepas dan mencari sisi yang sama?

Sedikit ngelantur. Semisal sisi dari IPS, berarti sisi yang bergambar burung Garuda tadi lepas. Dan dia mencari sisi Garuda yang lain, yang kebetulan juga sedang benci dengan sisi IPA. Lalu kedua Garuda itu bersatu? Aku yakin sangat yakin apalah arti koin tersebut, tak akan ada artinya Koin yang tak bernominal. Dua sisinya adalah Garuda. Lah sekarang koin 500 perak aja hampir gak ada harganya. Beli permen dapetnya paling 3.

Dan bayangkan lagi. Sisi IPA, angka. Dia membenci sisi IPS. Lalu sisi angka tadi mencari koin lain yang senasib seperjuangan. Lalu mereka juga bersatu. Berarti sekarang koin yang tadi bersatu memiliki dua buah sisi dan sama-sama angka? Apakah kalian pikir ini berharga? Nggak mungkin, uang ini akan menjadi ilegal karena tak memiliki identitas negara yang berupa Garuda dan tulisan Bank Indonesia.

Sungguh analogi yang aneh. Tapi ada benarnya juga. SMA ini juga harus seimbang. Jangan-jangan IPA dan IPS salah satu elemen penyusun kemakmuran. Hmmm. Mungkin bukan hanya di SMA, tapi juga dalam kehidupan.

Semisal salah satu dari mereka seperti koin tadi dan tidak akur. Bisa saja mereka yang benar-benar IPS, yang faham hukum secara holistik. Mereka bisa saja tiba-tiba menuduh si IPA dan menjebloskan ke penjara serta dijatuhkan hukuman mati. Hukuman disuruh baca buku sejarah berwarna hitam putih, tapi sampai dia mati. Si IPS sangat tau hal bersangkutan dengan sosial juga hukum. Si IPA buta akan semua itu.

Dan juga semisal IPA yang benci. Mereka juga bisa tiba-tiba membuat suatu bom biologis. Yang berupa virus atau serangan bakteri. Tentu sangat mampu juga untuk membunuh bahkan memusnahkan si IPS. Bayangkan bom biologisnya berupa serangan panu akut. Mereka bisa menjadi sangat gatal, dan terus menggaruknya sampai pendarahan dan mereka mati.

Jadi bisa disimpulkan, keduanya itu penting. Justru mereka yang menganggap IPA paling hebat, atau IPS paling hebat. Mereka salah besar. Kita memang berbeda tapi bukan berarti tak bisa bersatu. Lagi pula, arti dari bersatu juga bukan "menjadi satu" kan? Tetaplah berjalan dibidang masing-masing. Sama-sama saling membutuhkan dan melengkapi.

Haha kalau ada yang nggak percaya soal koin yang tadi, nih ada gambarnya...


Masih gak percaya? Sisi kiri adalah IPA, Biologi (tumbuhan) dan Matematika (angka, nominal) dan sisi kanan adalah IPS, PKn (burung Garuda).

Hmm, mungkin ada yang bertanya? Tadi itu cuman IPA dan IPS, terus sisi Bahasa dimana? Sisi Bahasa tersirat dalam postingan ini. Tentulah mustahil aku menulis semua ini tanpa sebuah Bahasa.

Hehehehe. Follow me ya... @dannyrizky_

1 komentar:

  1. selalu keren penulisannya dan bahasanya keren dan :) waahhh bener-bener kagum nih.

    BalasHapus

 
;