Kenapa aku bahas perempuan, karena seperti kata orang-orang "Ladies First" Ya kan ya kan? Aku nggak tau kenapa kok bisa ada istilah seperti itu. Padahal yang pertama diciptakan itu Adam, harusnya kan "Adam First" kok malah jadi salah satu maskapai penerbangan "Adam Air" Dasar!
Lupakan soal Adam, aku balik lagi ke topik pembicaraan. Hmm oke cuman basa-basi, langsung aja.
Lagi-lagi perempuan, anak yang satu ini wihhhh....!!! Berperawakan model, suaranya bagus. Kok malah jadi berasa broadcast promote temen di BBM ya? Halah biarin. Okay
Luky... <<< kenapa pake warna biru muda, ntar kalau pake warna biru tua disangka Arema. Bisa-bisa blog ku di porak-porandakan oleh kaum Bonek. SASAJI! SAlam SAtu saJIku tepung Bumbu!
Luky, Luky, Luky kalau gede mau jadi apa? *silahkan nyanyikan dengan nada yang sama seperti lagu Susan*
Luky, tubuhnya yang tinggi, senyumnya yang manis, dan suaranya yang merdu seakan melengkapi kesempurnaannya menjadi seorang perempuan. Berparas kelas atas, dan mampu memikat setiap laki-laki. Ih gila, udah semacam kantung semar aja yang memikat serangga. Nggak kok anggap saja barusan ini bualan biasa. Laki-laki suka membual, bilang cantiknya kesemua perempuan yang dia suka. Hahaha *ditembak dari kejauhan dengan Sniper*
Aku sudah sering melihat Luky dari semenjak aku kelas X. Karena kebetulan kelasnya sebelahan. Tetangga kelas gitu. Ya sekadar melihat dan sekadar tau aja. Dulu pertama liat Luky, dia selalu berjalan bertiga dengan ketiga temannya. Yaiyalah dannnn! Luky bisa dibilang sudah tingkat atas menurutku waktu itu, dan aku hanya layaknya korban lumpur Porong. Masih ndeso-ndesonya, aku aja baru tau yang namanya AC bisa ngeluarin angin dingin ya baru sekolah di SMAMDA itu. Biasanya kalau pengen ngadem buka kulkas duduk didepannya. Kalau nggak gitu, buka Freezernya, kerok es dilangit-langitnya, terus buat cuci muka biar dingin. Akhirnya aku tau kalau itu kotor. Oh god why...
Jadi, aku hanya bisa memandanginya aja. Mungkin bisa dibilang secret admiral. Eh bener gak sih? Apa secret admirer? Yaudahlah. Kasian sekali aku, dulu aku masih merasa adanya suatu kasta disekolah. Ibarat sejarah aku mungkin kaum Sudra atau Paria, kalian bisa cari di Google. Dan orang-orang yang aku anggap keren itu kaum Brahmana. Bisa digambarkan seperti ini, jadi dulu saat si Luky lewat aku hanya bisa nunduk liat bawah sambil bawa jerami buat kasih makan ternak. Kasihan, sangat miris.
Eh ternyata, begitu kelas 11. Aku sekelas dengannya. Entah rejeki macam apa yang aku dapatkan. Okay, okay jujur aku sempat suka dengan perempuan yang satu ini. Tapi aku mengurungkan niat karena suatu hal yang nanti akan aku jelaskan.
Awal pertama masuk kelas 11 ya seperti biasa. Suasanya berasa dingin. Itu karena baru diketahui ternyata AC kelas gak mati mulai dari 2 hari lalu. Hmm suasana di kelas dingin, nggak ada ngomong saling diem. Sepi. Ternyata aku aja yang berangkat kepagian, nggak ada orang cuy.
Luky diawal-awal pertemuan kelas, masih terlihat pribadi yang diem. Mungkin juga sedikit judes. Itu hanya penilaianku pada saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata dia orangnya enak kok. Iya dia enak. AKU NGGAK NGAPA-NGAPAIN SUMPAH. Enak diajak ngobrol. Sepertinya tiap kalimat harus diperjelas biar nggak timbul keambiguan.
Semakin kesini, ternyata Luky mempunyai kesamaan, iya kesamaan dengan Mega. Dia ternyata salah seorang Duta Ambigu juga. Ya Tuhan banyak sekali Kau ciptakan mahluk yang seperti ini. Bisa dibilang tingkatan mereka sama dalam bidang keambiguan. Mungkin mereka berdua sama-sama tereliminasi saat Duta Ambigu karena kurang dapat menjawab dengan tepat arti kata "Anu". Who care.
Perlu kalian ketahui, bermain ambigu dengan perempuan itu resikonya sangat tinggi. Ngeri juga ketika ngomong sesuatu yang agak gimana gitu, terus mereka senyum. Aihhh rasanya itu ya...
Luky nggak sefrontal Mega yang dengan polosnya tanya tentang sesuatu yang rasa-rasa. Tapi aku akui, ngeri benar-benar ngeri. Salah satu contoh ambigunya dia, begini ceritanya.
Ada temanku laki-laki namanya Rama, yang kebetulan berjalan sambil membawa susu ultra yang isinya masih banyak. Lalu dia tanya, "heh susunya siapa ini? Ada yang nggak suka susu ta? Buat aku ya ini?" Lalu aku juga bicara hal yang sama dengan nada agak keras, memang maksud hati ingin bermain sedikit kotor. "Heh siapa yang nggak suka susu?" Kejadian buruk pun menimpaku, atap sekolah rubuh tepat mengenai kepalaku. Bukan, bukan itu.
Luky, menoleh kearahku. Dengan sedikit senyum, dan dia juga menanyakan hal yang sama "Lho kamu gak suka susu ta Dan" Okay seketika itu aku terkapar tak berdaya di lantai sekolah, dan esok paginya sekolah libur karena ditemukan mayat seorang siswa yang mati dengan keadaan mulut berbusa. Hmm belum sempat aku menjawab, dia sudah membombardir dengan pertanyaan yang lebih ngeri "Kamu mau ta Dan?" Saat itu pula rasanya aku ingin ada meteor yang jatuh dan meluluh lantakan aku beserta seluruh isi sekolah. No comment for this moment. *gemeteran*
Oya, sebagai laki-laki yang masih normal masih suka dengan perempuan. Aku sempat suka dengan perempuan ini. Tapi kenapa aku urungkan niatku. Itu karena yang suka Luky banyak euy... Gila temennya cowok semua. Dia bilang sih keturunan dari Mamanya, soalnya Mamanya dulu juga banyak temen cowoknya.
Mantannya Luky ada banyak, ada 99 mungkin. Beh, itu mantan atau Asmaul Husna. Banyak bener. Okay beberapa fakta lagi, kalau kebetulan ada yang suka Luky dan berharap untuk jadi pacarnya. Satu kata, bersabarlah. Mau macarin Luky itu kaya kloter pemberangkatan haji. Kita suka sama Luky sekarang, pacaranya ntar 15 tahun lagi. Jadi kalau mau suka, sukalah dari sekarang sebelum terlambat dan terembat.
Dasar! Gini banget ya temen-temenku. Tuhan selalu punya cara sendiri untuk menciptakan beribu pengalaman dan jutaan tawa.
Oiya kemarin Luky juga ulang tahun, ulang tahun yang ke-17. Semoga panjang umur, bukannya apa-apa sih. Situ aku doain panjang umur biar tahun depan bisa traktiran lagi. Udah itu aja nggak lebih.
Itu aku lagi lupa diri, kalau itu pas Luky lagi cantik. Hahahaha. Dia nggak punya Twitter. Jadi yaudah,
Follow me on Twitter aja @dannyrizky_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar